Tragedi Kanjuruhan: Korban meninggal dunia bertambah menjadi 135 orang

Sumber gambar,

ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Sejumlah pegiat HAM bersama mahasiswa menggelar aksi kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pascapertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya, bertambah satu orang. Sehingga secara keseluruhan ada 135 orang yang kehilangan nyawa akibat kejadian itu.

 Korban terkini bernama Farzah Dwi Kurniawan (20) warga Kota Malang. Mendiang meninggal dunia pada Minggu (23/10), pukul 22.50 WIB, sebagaimana dilaporkan kantor berita
Antara.

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan, dalam rekomendasi yang diserahkan ke Presiden Joko Widodo, Jumat (14/10), menyimpulkan “kematian massal” lebih disebabkan oleh gas air mata yang ditembakkan aparat.

“Yang mati dan cacat dan kritis dipastikan itu terjadi karena desak-desakan setelah ada gas air mata yang disemprotkan [aparat],” ungkap Mahfud MD.

Mahfud MD juga mengatakan, ada saling lempar tanggung jawab antara sejumlah lembaga terkait Tragedi Kanjuruhan, yang telah mengakibatkan 132 orang meninggal.

Pernyataan Mahfud ini merujuk kepada saling tunjuk antaraPersatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), PT Liga Indonesia Baru (LIB), panitia pelaksana (panpel) pertandingan sepak bola, serta pihak pemilik hak siar, terkait tragedi itu.

Kapolda Jatim dicopot

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Seorang warga merapalkan doa di depan Stadion Kanjuruhan, Malang.

Sebelumnya, Kapolda Jawa Timur resmi dicopot dari jabatannya, sementara sejumlah LSM ungkap tindak kekerasan “sengaja dan sistematis” oleh aparat, sepekan setelah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 korban jiwa dan melukai ratusan lainnya.

Dalam surat telegram tertanggal 10 Oktober 2022, Kapolda Jawa Timur
Irjen Nico Afinta dipindahtugaskan ke posisi staf ahli bidang sosial dan budaya (Sahlisosbud) Kapolri.

Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo, membenarkan telegram tersebut seraya menjelaskan bahwa mutasi tersebut adalah “hal yang alamiah”.

Adapun jabatan Kapolda Jawa Timur kini ditempati oleh Irjen Teddy Minahasa yang sebelumnya Kapolda Sumatera Barat.

Sebelumnya, diduga ada kesalahan prosedur pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian dan panitia pelaksana dalam laga yang menandai kekalahan pertama Arema FC dalam 23 tahun terakhir melawan musuh bebuyutan Persebaya Surabaya di kandangnya, Stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur.

Enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk dari pihak kepolsian. Adapun, Kapolres Malang juga telah dimutasi beberapa hari lalu.

Namun, tim pencari fakta Koalisi Masyarakat Sipil menilai telah terjadi tindak kekerasan yang dilakukan secara “sengaja dan sistematis” oleh aparat keamanan, tak hanya melibatkan aktor lapangan saja yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Tetapi ada aktor lain, dengan posisi lebih tinggi yang seharusnya ikut bertanggung jawab, dan perlu diproses hukum lebih lanjut,” tegas tim pencari fakta Koalisi Masyarakat Sipil dalam keterangan tertulis, Minggu (09/10).

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Sejumlah suporter Sriwijaya FC, Palembang, mendukung langkah pengusutan tuntas Tragedi Kanjuruhan.

Baca juga:

  • Tragedi Kanjuruhan: Polisi menyatakan gas air mata tidak ada yang mematikan, penyitas ‘napas pedih, kita memilih untuk tidak napas’
  • Tragedi Stadion Kanjuruhan: Menit-menit mematikan, ‘jeritan, tergeletak pingsan, tak bernyawa’ di tengah ‘lautan asap gas air mata’, cerita para saksi dari sejumlah tribun
  • Kapolri didesak periksa dugaan pelanggaran prosedur di Stadion Kanjuruhan sebab ‘gas air mata memicu kepanikan orang’

Hasil investigasi tim pencari fakta koalisi yang terdiri dari sejumlah LSM itu, juga menemukan bahwa pada saat pertengahan babak kedua, terdapat “mobilisasi sejumlah pasukan yang membawa gas air mata”.

Padahal, diketahui tak ada ancaman atau potensi gangguan keamanan saat itu.

Para suporter Arema FC – yang dijuluki Aremania – yang turun ke lapangan, menurut para saksi yang memberikan keterangan pada tim pencari fakta, adalah demi memberikan “dorongan motivasi dan moril” bagi pemain.

“Akan tetapi, hal tersebut direspons secara berlebihan dengan mengerahkan aparat keamanan dan kemudian terjadi tindak kekerasan.”

Selain itu, sebelum tindakan penembakan gas air mata, tak ada upaya aparat untuk melakukan perintah lisan atau suara peringatan untuk mencegah kekacauan semakin terjadi.

Padahal, merujuk pada Perkap Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan, kepolisian harus melalui tahap-tahap tertentu sebelum mengambil tahap penembakan gas air mata.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Hasil investigasi tim pencari fakta koalisi yang terdiri dari sejumlah LSM itu, juga menemukan bahwa pada saat pertengahan babak kedua, terdapat “mobilisasi sejumlah pasukan yang membawa gas air mata”

Berdasarkan kesaksian para suporter, masih menurut hasil investigasi tim pencari fakta Koalisi Masyarakat Sipil, penembakan gas air mata tidak hanya ditujukan ke bagian lapangan, tetapi juga mengarah ke bagian tribun sisi selatan, timur, dan utara sehingga hal tersebut menimbulkan kepanikan yang luar biasa bagi suporter yang berada di tribun.

“Saat ingin hendak keluar dengan kondisi akses evakuasi yang sempit, terjadi penumpukan di sejumlah pintu yang terkunci.”

“Bahwa di dalam ruangan yang sangat terbatas tersebut, diperparah dengan masifnya penembakan gas air mata oleh aparat kepolisian dan hal ini berdampak sangat fatal yang mengakibatkan para korban sulit bernafas hingga menimbulkan korban jiwa.”

Sementara itu, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) memastikan seluruh pintu keluar tidak tertutup saat pertandingan usai, namun “hanya anak pintu” yang terbuka.

Keterangan ini didapatkan setelah tim TGIPF mendatangi Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (08/10) untuk melakukan kajian atas tragedi sepekan lalu di tempat kejadian perkara.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Sebuah poster yang mendorong pemerintah mengusut tuntas tragedi di Kanjuruhan dipasang oleh warga di Malang, Jawa Timur.

“Tapi yang digunakan saat itu, hanya anak pintu atau pintu yang kecil, baik saat penonton masuk maupun pulang,” kata anggota TGIPF Mayjen TNI (Purn) Suwarno, seperti dikutip dari
Kompas.

“Jadi apa yang dikatakan pintu tertutup itu tidak benar,” lanjut dia. “Cuma yang dibuka hanya anak pintunya saja dari 14 pintu ini.”

Sebelumnya, polisi pada Jumat (07/10) mengatakan hanya dua pintu darurat yang terbuka saat suporter panik setelah mendapatkan tembakan gas air mata dari aparat.

Baca :   Jaring Jaring Bangun Ruang Segi Lima

“Dari delapan pintu darurat, yang terbuka hanya dua. Itu pun untuk jalur evakuasi pemain Persebaya,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo.

Dalam keterangan pers yang diberikan oleh Arema FC pada Jumat (07/10), Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC Abdul Haris mengatakan semua pintu telah terbuka sepuluh menit sebelum laga berakhir.

“Sesuai SOP, pintu itu semua sudah terbuka. Kalau memang ada, mohon maaf, kalau memang ada oknum yang menutup, semua ada di CCTV,” kata Abdul, yang kini telah ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam tragedi ini.

Presiden FIFA datang ke Indonesia

Sumber gambar,

ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Komitmen untuk transformasi persepakbolaan Indonesia disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden FIFA Gianni Infantino saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta pada Selasa (18/10).

Jokowi menganggap tragedi ini sebagai “momentum perbaikan sistem persepakbolaan di Indonesia”, namun Jokowi tidak menyinggung rekomendasi Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) agar Ketua Umum dan Komite Eksekutif PSSI mengundurkan diri.

“Ndak, itu urusan internal kita. Urusan pemerintah dengan FIFA tidak sampai ke sana,” tutur Jokowi kepada wartawan di Jakarta.

Presiden Jokowi mengatakan poin-poin transformasi yang dibicarakan dalam pertemuan dengan Infantino berkaitan dengan manajemen stadion, standar kelayakan stadion, manajemen keamanan, manajemen pertandingan, hingga manajemen suporter.

Jokowi juga menyatakan bahwa Stadion Kanjuruhan akan dirobohkan dan dibangun ulang sesuai dengan standar FIFA.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo berkata pemerintah Indonesia bersama dengan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akan membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia.

Hal tersebut merupakan salah satu poin dalam surat dari FIFA yang diterimanya sebagai tindak lanjut pembicaraan per telepon antara Presiden Jokowi dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada 3 Oktober 2022 lalu.

“FIFA bersama-sama dengan pemerintah akan membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia dan FIFA akan berkantor di Indonesia selama proses-proses tersebut,” ujar Presiden Jokowi dalam pernyataan pers, Jumat (07/10/2022), di Istana Merdeka, Jakarta.

Selain itu, dalam surat tersebut juga disampaikan bahwa sepak bola Indonesia tidak dikenakan sanksi oleh FIFA terkait tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada 1 Oktober 2022 lalu.

“Berdasarkan surat tersebut, alhamdulillah sepak bola Indonesia tidak dikenakan sanksi oleh FIFA,” imbuh Presiden Jokowi.

Selanjutnya, Kepala Negara memaparkan bahwa akan dilakukan langkah-langkah kolaborasi antara FIFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan pemerintah Indonesia untuk:

  • membangun standar keamanan stadion di seluruh stadion yang ada di Indonesia;
  • memformulasikan standar protokol dan prosedur pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian berdasarkan standar keamanan internasional;
  • melakukan sosialisasi dan diskusi dengan klub-klub bola di Indonesia, termasuk perwakilan suporter untuk mendapatkan saran dan masukan serta komitmen bersama;
  • mengatur jadwal pertandingan yang memperhitungkan potensi-potensi risiko yang ada; serta
  • menghadirkan pendampingan dari para ahli di bidangnya.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Mochamad Munif melihat foto anaknya, Lutvia Damayanti, salah satu korban meninggal dalam Tragedi stadion Kanjuruhan di Malang.

‘Kapolda Jatim harus bertanggung jawab’

Sebelumnya, penetapan tersangka yang dilakukan Polri terhadap enam tersangka di tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, direspons keluarga korban.

Devi Athok Yulfitri, 43 tahun yang kehilangan dua putrinya, Natasha dan Naila, mengatakan, pimpinan dari Polda Jawa Timur harus bertanggung jawab.

Alasannya, menurutnya, satuan dari Polda Jatim yang menembakkan gas air mata di dalam stadion.

“Itu Kapolda Jatim harus bertanggung jawab, jangan lepas tangan. Setahu saya, Polda Jatim yang menembak, dari Brimob dan kesatuan di luar Malang.

“Kalau Polres Malang cuma defensif, tapi pemukulan hingga penembakan itu dari luar Malang,” kata Devi saat dihubungi, Jumat (07/10).

Untuk itulah, dia meminta kepada Polri untuk mencopot dan juga membawa ke ranah hukum para pimpinan polisi yang bertanggung jawab.

“Itu kan bukan tawuran, bukan pembakaran. Itu Cuma bentuk ekspresi Aremania. Jangankan pakai gas air mata, pakai water cannon saja anak-anak sudah [bubar],” kata Devi.

Keterangan gambar,

Devi Athok Yulfitri, 43 tahun, kehilangan dua putrinya, Natasha Debi dan Naila Debi, serta mantan istrinya Gebi Asta Putri.

Devi mengatakan, penggunaan gas air mata bukan yang pertama terjadi di Stadion Kanjuruhan. Sebelumnya tahun 2022, kala melawan Persib Bandung, gas air mata juga pernah ditembakkan.

“Saya menyaksikan tragedi Kanjuruhan pertama itu, dan lagi-lagi, yang menembakkan itu kesatuan dari Polda Jatim, dan padahal sudah ada MoU sebelumnya untuk tidak menggunakan gas air mata,” katanya.

Devi berharap agar keadilan bagi korban dan keluarga dapat ditegakkan dengan cara menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Tindakan sebrutal itu menyebabkan banyak nyawa meninggal. Pihak-pihak terkait harus dihukum setimpal dengan kesalahan mereka, maksimal hukuman mati karena kematian keluarga kami di luar nalar manusia, itu pembantaian, bukan lagi kesalahan atau kelalaian,” ujar Devi.

Senada, pendukung Arema Malang,  Andika Bimantara juga menyatakan kecewa dengan penetapan tersangka yang dilakukan Polri.

Menurutnya, masih banyak pihak-pihak, khususnya para pimpinan baik dari PSSI hingga kepolisian yang harus bertanggung jawab terhadap tragedi ini.

“Harusnya pihak PSSI juga harus bertanggung jawab, jangan hanya dari LIB saja. Lalu pihak kepolisian Polda Jatim juga harus bertanggung jawab,” kata Andika.

“Karena PSSI selaku otoritas yang dalam regulasi dan Polda Jatim yang punya pasukan.

“Minimal Ketum PSSI mundur lalu regulasi stadion dan keamanan diubah. Dan kalau punya rasa malu, Kapolda Jatim mundur karena dia juga bertanggung jawab di sini khususnya dalam pengerahan pasukan,” ujar Andika.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Seorang warga Kota Malang melewati mural menuntut pengusutan tuntas Tragedi Kanjuruhan di Malang, Rabu, 5 Oktober 2022.

Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan Danki Tiga  Brimob Polda Jatim dan Kasat Samapta Polres Malang, yang telah ditetapkan sebagai tersangka, diduga memerintahkan anak buahnya yang membawa gas air mata untuk ditembakkan di dalam stadion.

Dalam kesempatan berbeda, Menko Polhukam Mahfud MD – yang juga pemimpin Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan – menyatakan ada kemungkinan tersangka masih akan bertambah.

“Tim dari pemerintah akan mencari penyebab-penyebab lain dan mungkin bisa saja dari temuan itu sebenarnya masih ada masalah atau pihak lain atau orang lain yang harus ditindak,” kata Mahfud, saat menjadi pembicara di acara
Mata Najwa, Kamis (6/10) malam.

20 anggota polisi diduga melanggar etik

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Tuntutan agar Tragedi Kanjuruhan diusut tuntas terus disuarakan, seperti terlihat pada poster yang ditempel di sudut Kota Malang, Rabu, 5 Oktober 2022.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan sebanyak 20 anggota polisi diduga melakukan pelanggaran etik terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang.

“Ditemukan bukti yang cukup terhadap 20 orang terduga pelanggar,” ujar Sigit dalam jumpa pers di Mapolres Malang Kota, Kamis (06/10) malam. Empat orang di antaranya merupakan pejabat utama di Polres Malang.

Baca :   Diketahui Titik a 3 1 B 3 6

Mereka adalah AKBP Ferli Hidayat (FH), yang saat ini Kapolres Malang, Kompol WS, AKP BS, serta Iptu BS.

Lainnya, perwira pengawas dan pengendali sebanyak dua personel, yakni AKBP AW dan AKP D, kata Kapolri.

Adapun 14 personel lainnya dari Satbrimobda Jatim.

Sementara, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo pada Jumat (07/10) mengatakan, sampai dengan saat ini, tim Bareskrim, Polda Jawa Timur, Propam dan Itsus Polri masih terus bekerja dengan mengedepankan penyidikan Scientific Crime Investigation (SCI).

“Kami berharap masyarakat sabar dan mempercayakan sepenuhnya pengusutan perkara ini kepada kami. Sejak awal kami sudah berkomitmen untuk mengusut tuntas hal ini,” ujar Dedi.

Enam tersangka, di antaranya direktur Liga Indonesia Baru

Sumber gambar,

Reuters

Keterangan gambar,

Jenderal Listyo mengatakan para tersangka diduga menyebabkan tewasnya orang lain atau menyebabkan luka-luka.

Polri telah menetapkan enam tersangka tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang, lebih 320 lainnya luka-luka, salah satu bencana sepak bola paling buruk di dunia.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam keterangan pers di Malang, hari Kamis (06/10), mengatakan enam tersangka tersebut mencakup AHL, direktur Liga Indonesia Baru, yang memutar liga domestik di Indonesia.

Tersangka lain adalah AH (ketua panitia pelaksana pertandingan), dan SS (security officer).

Tersangka lain adalah tiga anggota Polri, mereka adalah Wahyu SS, H, dan BS.

Jenderal Listyo mengatakan mereka disangka menyebabkan tewasnya orang lain atau menyebabkan luka-luka.

Ia juga menambahkan masih terbuka kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menargetkan investigasi tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, yang sejauh ini telah menewaskan 131 orang, agar dapat diselesaikan “secepat-cepatnya”.

Pengusutan atas tragedi ini tengah dilakukan oleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD.

“Kan sudah disampaikan oleh Menko Polhukam, beliau minta satu bulan, tapi saya minta secepat-cepatnya karena ini barangnya kelihatan semua, secepat-cepatnya,” kata Jokowi usai menjenguk para korban di Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Syaiful Anwar, Malang, Rabu (05/10).

Jokowi juga menjanjikan bahwa kasus ini akan “diusut tuntas” dan “tidak ditutup-tutupi”.

Pihak yang terbukti bersalah, lanjut dia, akan disanksi. Begitu pula yang terbukti bersalah secara pidana.

Selain itu, Jokowi juga memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengaudit total seluruh stadion di Indonesia, baik yang digunakan untuk Liga 1, Liga 2, maupun Liga 3.

“Apakah gerbangnya ukuran sesuai standar, manajemen lapangannya yang memegang kendali siapa, semuanya dari peristiwa ini kita perbaiki semuanya. Manajemen pertandingan, manajemen lapangan, pengelolaan lapangan semuanya kita audit total,” tutur Jokowi.

Jokowi juga telah menelepon Presiden FIFA, Gianni Infantino yang menyatakan bisa membantu memperbaiki tata kelola persepakbolaan Indonesia.

Sumber gambar,

AFP

Keterangan gambar,

Dua pendukung Arema FC berduka di Stadion Kanjuruhan, Malang. Sebanyak 131 orang meninggal dunia akibat tragedi di stadion tersebut.

131 orang meninggal, 35 di antaranya anak-anak

Korban meninggal akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (01/10) lalu bertambah menjadi 131 orang dan 35 orang di antaranya adalah anak-anak, menurut data resmi Polri dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Tragedi Kanjuruhan menjadi bencana sepak bola terburuk kedua di dunia, setelah peristiwa di Estadio Nacional, Lima, Peru pada 1964 yang menewaskan lebih dari 300 orang.

“Ya, semalam dilakukan coklit bersama kepala Dinas Kesehatan, tim DVI, dan direktur rumah sakit. Penambahan data yang meninggal di non-fasilitas kesehatan, karena tim (sebelumnya) mendatanya korban yang dibawa ke rumah sakit,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Dedy Prasetyo kepada BBC News Indonesia, Rabu (5/10).

Dihubungi terpisah, Deputi Bidang Perlindungan Anak KPPPA Nahar mengonfirmasi jumlah korban anak-anak per Rabu pagi bertambah menjadi 35 orang. Korban termuda berusia empat tahun.

Arema FC dikenai sanksi

Sumber gambar,

Reuters

Keterangan gambar,

Tragedi di Kanjuruhan adalah salah bencana sepak bola terburuk di dunia.

Sebelumnya, Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjatuhkan sanksi terhadap klub Arema FC, ketua pelaksana pertandingan, dan penanggung jawab keamanan dalam pertandingan di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 125 orang pada Sabtu (01/10/2022).

Ketua Komdis PSSI, Erwin Tobing mengatakan investigasi soal penyelenggaraan pertandingan menemukan “adanya kelalaian yang dilakukan oleh badan pelaksana pertandingan Arema FC, panitia pelaksana, dan penanggung jawab keamanan”.

“Kepada klub Arema FC dan badan pelaksananya, keputusannya adalah dilarang menyelenggarakan pertandingan dengan penonton sebagai tuan rumah dan [pertandingan] harus dilaksanakan di tempat yang jauh dari
home base

di Malang, jaraknya harus lebih dari 250 kilometer dari lokasi,” kata Erwin dalam keterangan pers di Malang pada Selasa (04/10).

Komdis PSSI juga memberi sanksi denda terhadap Arema FC sebesar Rp250 juta.

Ketua Panitia Pelaksana, Abdul Haris, dilarang beraktivitas di lingkungan sepak bola seumur hidup karena “tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan cermat, dan tidak siap”.

Erwin mengatakan, “Gagal mengantisipasi kerumunan orang datang, padahal punya
stewards. Ada hal yang harus disiapkan, pintu yang seharusnya terbuka tetapi tertutup.”

Penanggung jawab keamanan Arema FC, Suko Sutrisno, dilarang beraktivitas di lingkungan sepak bola seumur hidup.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Bunga sebagai tanda dukacita untuk para korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Sebelumnya, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Albertus Wahyurudhanto, menjelaskan bahwa pihaknya mendapat konfirmasi mengenai penembakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

“Tidak ada perintah dari Kapolres untuk melakukan penguraian massa dengan tindakan eksesif, yaitu dengan peluru gas air mata. Tidak ada. Itu disampaikan saat apel lima jam sebelumnya,“ papar Albertus dalam konferensi pers terkait investigasi Tragedi Stadion Kanjuruhan di Polres Malang, Selasa (4/10).

Dalam apel tersebut, menurut Albertus, salah satu instruksi dan dilakukan berulang-ulang oleh Kapolres AKBP Ferli Hidayat adalah tidak boleh melakukan tindakan kekerasan dalam keadaan apapun.

Bahkan, sambung Albertus, Kapolres memerintahkan semua anggota menitipkan senjata di luar stadion sehingga tidak ada satupun anggota yang membawa senjata di dalam stadion.

Bahwa kemudian ada tembakan gas air mata di dalam stadion, menurut Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto, “berarti di lapangan ada yang tidak menjalankan instruksi”.

Albertus mengatakan itulah mengapa Kapolri mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat  serta sembilan polisi lainnya yang mencakup komandan batalyon, komandan peleton, dan komandan kompi.

“Jadi ada dugaan memang terjadi pelanggaran instruksi dan ini akan kita cek siapa yang merintah, karena nggak ada yang merintah itu. Ada rekaman yang kami terima, rekaman ketika apel dilakukan ketika lima jam sebelum pertandingan dimulai,” papar Albertus.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Para pendukung PSIS Semarang, misalnya, berkumpul di Stadion Jatidiri pada Minggu (2/10) guna berdoa dan berbela sungkawa untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang.

Dia juga mengatakan tidak ada perintah dari kepolisian untuk menutup pintu stadion. Berbagai saksi mata yang BBC News Indonesia wawancarai mengaku pintu-pintu stadion ditutup sehingga penonton tidak bisa keluar setelah gas air mata dilontarkan.

Baca :   Soal Kimia Kelas 11 Semester 1

“Konfirmasi kepada Kapolres bahwa tidak ada perintah untuk menutup pintu sehingga harapannya memang 15 menit dibuka. Tetapi tidak diketahui mengapa ada pintu terkunci.”

Menurut Albertus, polisi juga telah memperkirakan potensi konflik yang tinggi dalam pertandingan ini, sehingga aparat meminta jam pertandingan dipindahkan ke sore hari.

Namun permintaan itu “tidak direspons dengan positif” karena pertimbangan “sudah ada kontrak hak siar”.

Dalam mitigasi dan perencanaan evakuasi, polisi disebut mengerahkan dua barakuda untuk mengawal pemain dari kedua tim, namun kendaraan tidak bisa keluar dari stadion karena kericuhan.

Terdapat 2.000 anggota polisi yang dikerahkan untuk pertandingan itu, 600 di antaranya dari Polres Malang dan 1.400 lainnya dari satuan lain.

Baca juga:

  • Tiga hal penting dalam penyelidikan Tragedi Kanjuruhan, ‘Sudah bubar karena anjing pelacak, kenapa lempar gas air mata ke tribun?’
  • ‘Suara tembakan gas air mata banyak banget, penonton ada yang diinjak’, kesaksian penonton Arema-Persebaya yang berujung pada kerusuhan

Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk terkait Tragedi Kanjuruhan, diharapkan akan rampung hasil penyelidikannya dalam dua pekan ke depan.

Tim yang terdiri dari berbagai kementerian dan lembaga ini dipimpin oleh Mahfud sendiri.

Organisasi Amnesty International Indonesia sebelumnya secara khusus menyerukan investigasi independen dan sesegera mungkin atas penggunaan gas air mata di dalam stadion.

“Investigasi independen … untuk memastikan siapa pun yang diyatakan melakukan pelanggaran diadili secara terbuka dan tak sekadar menerima sanksi administratif,” kata Usman Hamid, direktur eksektif Amnesty International Indonesia.

Baik HRW maupun Amnesy mengatakan invesigasi independen diperlukan untuk mencegah kejadian serupa tidak terjadi di masa mendatang.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Seorang pendukung Arema FC turun ke area lapangan setelah laga kandang melawan Persebaya usai, Sabtu (01/10).

Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut kejadian pada Sabtu (01/10) menyusul pertandingan antara Arena dan Persebaya itu adalah “hari gelap” dalam sepak bola.

Klub-klub Liga Primer Inggris mengungkap duka sementara Liga Spanyol melakukan mengheningkan cipta untuk korban dalam tragedi yang sejauh ini menyebabkan 125 orang meninggal dan lebih dari 300 luka-luka.

Jumlah korban meninggal sempat disebutkan mencapai 174 orang karena ada data yang ganda.

Polisi yang menggambarkan kejadian itu sebagai “kerusuhan” mengatakan mereka melepaskan gas air mata untuk memaksa pendukung kembali ke tribun dan setelah dua polisi meninggal.

Banyak korban yang terinjak-injak dan tak bisa bernapas karena berdesak-desakan, menurut polisi.

Kepolisian juga mengatakan insiden terjadi di gerbang 10 di stadion.

Suara teriakan terdengar saat penonton berusaha keluar termasuk perempuan dan anak-anak, menurut salah satu akun Twitter pendukung.

“Dunia sepak bola terkejut menyusul insiden tragis …,” kata Presiden FIFA Infantino.

“Ini adalah hari gelap dan tragedi yang sulit dibayangkan bagi semua yang terlibat dalam sepak bola…Duka cita untuk keluarga dan rekan-rekan korban,” tambahnya.

Konfederasi Sepak Bola Asia juga menyatakan duka atas jatuhnya korban.

Sumber gambar,

Reuters

Keterangan gambar,

Korban yang terkena gas air mata dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Sejumlah klub Liga Primer, termasuk Arsenal, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur – melalui cuitan – mengungkap “duka mendalam” atas tragedi ini.

La Liga dan Federasi Sepak Bola Spanyol sepakat klub-klub melakukan  mengheningkan cipta selama satu menit sebelum pertandingan hari Minggu (02/10).

Pernyataan dari La Liga menyebutkan mengheningkan cipta dilakukan sebagai “tanda duka cipta kepada rakyat Indonesia, khususnya bagi keluarga korban meninggal dan menghaturkan cepat sembuh bagi yang terluka.”

Para pemain dalam pertandingan Espanyol melawan Valencia mengheningkan cipta atas tragedi sebelum kickoff.

Asosiasi sepak bola Jerman dan Serie A Italia juga mengungkap duka cita melalui Twitter.

Baca juga:

  • Duka mengalir dari Manchester hingga Madrid untuk korban tragedi Stadion Kanjuruhan Malang
  • Tragedi sepak bola menyusul pertandingan Arema-Persebaya, salah satu insiden paling fatal di dunia, dalam gambar
Keterangan video,

Rusuh Stadion Kanjuruhan: Sedikitnya 174 orang korban meninggal dunia

Terbesar kedua dalam sejarah

Korban jiwa dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan ini menjadi bencana terbesar kedua dalam sejarah sepak bola global.

Pada 1964, sebanyak 328 orang meninggal dunia di Stadion Estadio Nacional di Lima, Peru, dalam pertandingan antara Peru dengan Argentina – juga setelah polisi menembakkan gas air mata yang menyebabkan eksodus massal.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Penonton menggotong penonton lain yang pingsan karena gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (01/10).

Baca juga:

  • Duka cita bagi tewasnya pendukung Persija, tetapi lalu apa?
  • Suporter Persib Bandung meninggal karena terjatuh dan terinjak: ‘Panitia harus tegas yang tidak punya tiket dilarang masuk’
  • Nyawa Haringga Sirilia dan budaya kekerasan penonton fanatik

Apa respons Arema FC dan Persebaya?

Sumber gambar,

Antara Foto

Keterangan gambar,

Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Manajemen Arema FC menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban akibat kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Sabtu kemarin.

“Manajemen siap menerima saran masukan dalam penanganan pasca musibah agar banyak yang diselamatkan,” kata Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris.

Sementara itu, Persebaya melalui Twitter mengucapkan duka cita kepada korban jiwa.

Apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan?

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, setelah kerusuhan pada Sabtu (01/10).

Stadion Kanjuruhan menjadi tuan rumah laga pekan ke-11 Liga 1 2022-20233 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022).

Namun, gol Sho Yamamoto pada menit ke-51, memastikan Arema kalah di hadapan Persebaya dengan skor 2-3.

Hasil pertandingan derbi Jatim ini ternyata tidak bisa diterima sebagian pendukung Arema FC dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.

Mereka berhamburan masuk ke lapangan dengan meloncati pagar, sebagaimana dilaporkan
Kompas.com.

Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain.

Petugas pun melepaskan gas air mata.

“Karena gas air mata itu, mereka pergi ke luar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak napas, kekurangan oksigen,” kata Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta, seperti dikutip kantor berita
Antara.

Sumber gambar,

Antara Foto

Keterangan gambar,

Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

“Kami juga ingin menyampaikan bahwa dari 40.000 penonton yang hadir kurang lebih, tidak semuanya anarkis, tidak semuanya kecewa, hanya sebagian yaitu sekitar 3 ribuan yang masuk turun ke tengah lapangan. Sedangkan yang lainnya tetap di atas [tribun],” kata Nico.

Hingga Minggu siang, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan sebanyak 174 orang, menurut Kadinkes Kabupaten Malang, Wiyanto Widodo dalam wawancara media.

Nico menjelaskan sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, sementara sisanya meninggal saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.

Menurutnya, hingga saat ini terdapat kurang lebih 180 orang yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit tersebut.

Selain korban meninggal dunia, tercatat ada 13 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri.

Di media sosial, video ketika massa turun ke area lapangan dan polisi melakukan tindakan pengamanan beredar luas.

Seorang saksi mata, Dwi, kepada
Kompas
menceritakan detik-detik terjadinya peristiwa kelam itu.

Dwi mengaku melihat banyak orang terinjak-injak usai gas air mata ditembakkan polisi ke arah tribun penonton.

“Selain itu saya lihat ada banyak orang terinjak-injak, saat suporter berlarian akibat tembakan gas air mata,” ujarnya, Sabtu.

Apa kata PSSI dan Kemenpora?

Sumber gambar,

Antara Foto

Keterangan gambar,

Sebuah mobil terbalik akibat kericuhan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jatim, Minggu (2/10/2022).

“PSSI menyesalkan tindakan suporter Aremania di Stadion Kanjuruhan. Kami berduka cita dan meminta maaf kepada keluarga korban serta semua pihak atas insiden tersebut,” tulis Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan melalui keterangan resmi di situsnya.

PSSI, sebutnya, “langsung membentuk tim investigasi dan segera berangkat ke Malang”, selain juga “mendukung kepolisian untuk menyelidiki kasus ini”.

Karena tragedi ini, kompetisi Liga 1 2022/2023 dihentikan selama sepekan dan Arema FC dilarang menjadi tuan rumah selama sisa kompetisi, sebut Iriawan.

Di hari yang sama, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali berjanji akan mengevaluasi kondisi keamanan dalam pertandingan sepakbola dan mempertimbangkan laga digelar tanpa penonton, seperti dilaporkan
Reuters.

“Ini harus diinvestigasi, tak bisa dibiarkan, dan harus menjadi yang terakhir,” kata Menpora Amali kepada
Kompas TV
dalam program Breaking News.

“Ini sangat memprihatinkan kita semua. Kita turut berduka cita atas musibah ini, di tengah kita sedang mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan-kegiatan sepak bola yang bahkan untuk tingkat dunia,” kata dia.

Aturan FIFA tentang gas air mata

Sumber gambar,

Antara Foto

Keterangan gambar,

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19, badan sepak bola dunia FIFA menetapkan petugas keamanan atau polisi tidak boleh membawa senjata api atau “gas pengendali massa” dalam pertandingan sepak bola.

Polda Jawa Timur tidak menjawab pertanyaan tentang apakah pihaknya mengetahui aturan ini, lapor Reuters.

Namun dalam keterangannya kepada pers pada Minggu (02/10), Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta berkata massa telah anarkis.

“Mereka menyerang petugas, merusak mobil,” kata Nico, setelah Arema kalah dari Persebaya, sehingga polisi menembakkan gas air mata untuk “mengontrol situasi”.

Menurut Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH), ada dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan (excessive use force) melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian masa yang tidak sesuai prosedur ini menjadi penyebab banyaknya korban jiwa.

“Seluruh pihak yang berkepentingan harus melakukan upaya penyelidikan dan evaluasi yang menyeluruh terhadap pertandingan ini,” kata YLBHI dalam siaran persnya.