Berikut Ini Yang Bukan Merupakan Senyawa Ion Adalah

Berikut Ini Yang Bukan Merupakan Senyawa Ion Adalah.

Internal kimia,
senyawa ionik
yakni senyawa kimia nan tersusun terbit ion-ion yang disatukan makanya gaya elektrostatik yang disebut pertalian ionik. Sintesis ini netral secara keseluruhan, semata-mata terdiri dari ion bermuatan positif yang disebut kation dan ion bermuatan negatif yang disebut anion. Masing-masing ion bisa maujud ion sederhana seperti mana sodium (Na+) dan klorida (Cl) dalam garam dapur, ataupun variasi poliatomik seperti mana ion amonium (NH
+
4

) dan karbonat (CO
2−
3

) privat amonium karbonat. Masing-masing ion privat sintesis ionik kebanyakan memiliki beberapa jiran terdekat; dengan alas kata lain lain tersusun privat molekul, namun tersusun privat sebuah jaringan tiga dimensi terus-menerus; ini biasanya dalam struktur kristal.

Senyawa ionik nan mengandung ion hidrogen (H+) diklasifikasikan andai asam, padahal nan mengandung ion basa hidroksida (OH) atau oksida (O2−) diklasifikasikan sebagai basa. Senyawa ionik tanpa ion-ion di atas juga dikenal misal garam dan dapat terbentuk melewati reaksi bersut basa. Senyawa ionik juga dapat dihasilkan dari ion konstituennya menerobos penguapan pelarutnya, sedimentasi, pengerasan, reaksi zat padat, atau reaksi transfer elektron logam peka dengan nonlogam reaktif, begitu juga tabun halogen.

Fusi ionik biasanya mempunyai bintik leleh dan titik didih yang strata, dan bersifat gentur serta rangup. Sebagai padatan senyawa-senyawa ionik akrab cak acap menyekat listrik, tapi saat meleleh atau larut senyawa-campuran ini menjadi habis konduktif, karena ion-ionnya menjadi dapat berputar.

Sejarah penemuan

[sunting
|
sunting sumber]

Kata
ion
berasal berpunca istilah Yunani ἰόν (ion) (bahasa Indonesia:
“sedang pergi”), bentuk neuter kata kerja partisipel rasi kini (setara dengan makna “sedang mengerjakan”) berasal kata ἰέναι (ienai) “pergi“. Istilah ini diperkenalkan makanya fisikawan dan kimiawan Michael Faraday pada tahun 1834 untuk spesies nan tidak dikenal yang berpindah mulai sejak satu elektrode ke elektrode lainnya melangkaui alat angkut berair.[1]
[2]

Spektrometer sinar-X nan dikembangkan oleh Bragg

Pada tahun 1913, struktur kristal natrium klorida ditemukan maka itu William Henry Bragg dan William Lawrence Bragg.[3]
[4]
[5]
Kreasi ini mengungkapkan bahwa terdapat heksa- setangga terdekat yang sama buat tiap-tiap atom. Hal ini menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut tak tersusun sebagai molekul alias agregat sedikit, melainkan sebagai jaringan intan imitasi dengan tatanan jarak jauh.[5]
Banyak senyawa anorganik lainnya pula dijumpai memiliki ciri struktural yang serupa.[5]
Sintesis ini lekas digambarkan tersusun berpokok ion-ion, dan bukan berasal zarah-atom netral, doang hipotesis ini tidak boleh dibuktikan sampai pertengahan 1920-an, yaitu saat dilakukan percobaan refleksi sinar-X (yang mendeteksi kerapatan elektron).[5]
[6]

Akademikus terdepan nan main-main meluaskan pengetahuan teoretis tentang struktur batu belanda ion adalah Max Born, Fritz Haber, Alfred Landé, Erwin Madelung, Paul Peter Ewald, dan Kazimierz Fajans.[7]
Born memprediksi energi intan buatan berdasarkan asumsi bahwa konstituennya yakni ion; hasil prediksi ini cukup setuju dengan pengukuran-pengukuran termokimia, sehingga mendukung asumsi tersebut.[5]

Pembentukan

[sunting
|
sunting sumber]

White crystals form a mineral sample of halite, shown against a black background.

Halit, rangka mineral natrium klorida, terdidik momen air payau bablas meninggalkan ion yang tidak menguap.

Senyawa ionik dapat dibuat berusul ion konstituennya dengan evaporasi, presipitasi, atau pembekuan. Logam kritis seperti logam alkali dapat bereaksi langsung dengan gas halogen yang sangat elektronegatif membentuk produk ionik.[8]
Sintesis-senyawa ini juga dapat disintesis sebagai hasil reaksi antar padatan internal temperatur tinggi.[9]

Jika fusi ionik sagu betawi internal pelarut, senyawa ini dapat diperoleh sebagai padatan dengan menguapkan pelarutnya berpokok hancuran elektrolit ini.[10]
Saat pelarut diuapkan, ion lain timbrung ki amblas melainkan tunak berada di larutan yang tertinggal, dan bila telah cukup pekat, terjadilah nukleasi sehingga fusi ionik tersebut mengkristal. Proses ini terjadi secara luas di alam, dan yakni prinsip pembentukan mineral-mineral evaporit.[11]
Metode lain lakukan mendapatkan kembali senyawa dari larutannya ialah dengan membuat larutan hingga mencapai tenggat kelarutannya puas guru hierarki dan kemudian menurunkan temperatur sehingga kelarutannya berkurang, enceran tersebut menjadi superjenuh, dan campuran padat ternukleasi.[10]

Senyawa ion yang lain larut boleh diendapkan dengan mencampur dua larutan, satu dengan kation dan satu sekali lagi dengan anion di dalamnya. Maka itu karena semua larutan berwatak objektif secara kelistrikan, kedua cair yang dicampur juga harus mengandung ion lawan dari beban yang berlawanan. Lakukan memastikan bahwa ion inversi ini tidak mencemari senyawa ionik yang diendapkan, penting untuk dipastikan semoga ion lawan tidak masuk mengendap.[12]
Jika kedua cairan tersebut menggunakan ion hidrogen dan ion hidroksida sebagai ion antiwirawan, mereka akan bereaksi suatu sama enggak dalam reaksi cemberut–basa atau reaksi netralisasi membentuk air.[13]
Sebagai alternatif, ion lawan dapat dipilih lakukan memastikan bahwa bahkan jika digabungkan dalam satu larutan tunggal, mereka akan tetap larut sebagai ion tribun [en].[12]

Jika pelarutnya yaitu air, baik intern metode penguapan ataupun reaksi pengendapan, kristal ionik yang terbentuk sering mengandung air intan buatan, sehingga produk tersebut dikenal sebagai hidrat, dan bisa memiliki kebiasaan kimia yang habis berbeda.[14]

Lelehan garam cairan akan memadat pada pendinginan sampai di asal noktah bekunya.[15]
Ini sama sekali digunakan untuk paduan benda padat senyawa ion kompleks berasal reaktan padat, nan terlebih dahulu dicairkan bersamaan.[16]
Dalam kasus bukan, reaktan padat tidak perlu dicairkan, hanya dapat bereaksi melangkahi jalur reaksi benda padat. Dalam metode ini, reaktan digiling berulang-ulang sampai renik dan menjadi pasta, kemudian dipanaskan setakat suhu yang memungkinkan pelarutan ion-ion reaktan yang berdekatan selama campuran reaktan loyal berada dalam oven.[9]
Jalur sintesis lainnya menggunakan prekursor padat ion non-volatil dengan rasio stoikiometri nan tepat, nan dipanaskan untuk menghilangkan spesies lainnya.[9]

Dalam bilang reaksi antara logam yang adv amat reseptif (biasanya terbit Golongan 1 atau Golongan 2) dan gas halogen yang sangat elektronegatif, alias air, anasir-unsur dapat diionisasi melangkahi transfer elektron,[17]
sebuah proses yang secara termodinamika boleh dipahami dengan menggunakan siklus Born–Haber.[18]

Perkariban

[sunting
|
sunting sumber]

Ion dalam campuran ionik terutama disatukan makanya gaya elektrostatik antar muatan-muatan yang ada di dalamnya, terutama tendensi Coulomb, gaya tarik jarak jauh antara beban destruktif anion dan muatan positif kation.[19]
Terdapat lagi gaya tarik tambahan dari interaksi van der Waals yang hanya menyumbang sekitar 1–2% energi afinitas untuk ion katai.[20]
Saat sepasang ion terlalu dekat kelopak elektron terluarnya mengalami tumpangsuh (kebanyakan ion sederhana memiliki kelopak tertutup), terjadi gaya tolak jarak ringkas[21]
akibat mandu pengecualian Pauli.[22]
Kesamarataan antara tren-kecondongan tarik dan tolak ini menyebabkan adanya jarak kesetimbangan tertentu yang stabil detik energi potensial berada di titik paling.[21]

Sekiranya struktur elektron dari kedua badan yang saling berinteraksi dipengaruhi maka dari itu adanya satu sebanding tak, interaksi kovalen (non-ionik) juga berkontribusi sreg energi keseluruhan sintesis nan terdidik.[23]
Campuran ionik langka nirmala ionik, adalah disatukan doang dengan gaya elektrostatik. Ikatan antara teman paling kecil elektronegatif/elektropositif sama dengan yang cak semau lega sesium fluorida menunjukkan tingkat kovalensi nan kecil.[24]
[25]
Sebaliknya, sangkutan kovalen antara molekul yang tidak sejenis kerap menunjukkan pemisahan muatan dan dapat dianggap memiliki kebiasaan ionik sebagian.[23]
Keadaan yang menentukan sifat ionik maupun kovalen suatu paduan kebanyakan dapat dipahami dengan menggunakan aturan Fajans. Aturan ini memperalat muatan dan ukuran tiap-tiap ion. Menurut aturan ini, senyawa dengan karakter paling ionik akan memiliki ion positif bermatra besar dengan muatan rendah, yanh terdorong pada ion negatif berdosis kecil dengan beban tinggi.[26]
Lebih awam juga, teori HSAB dapat diterapkan, lakukan paduan dengan karakter paling ionik merupakan yang terdiri dari asam kuat dan basa kuat: ion boncel bermuatan sangat hierarki dengan perbedaan elektronegativitas yang strata antara anion dan kation.[27]
[28]
Perbedaan n domestik elektronegativitas ini bermakna bahwa pemisahan muatan dan saat dipol yang dihasilkan, loyal bertahan bahkan saat ion-ion tersebut bersentuhan (elektron berlebih pada anion bukan ditransfer dan tidak terpolarisasi untuk menetralkan kation).[29]

Struktur

[sunting
|
sunting sendang]

Ion biasanya tersusun kerumahtanggaan struktur kristal reguler, dengan bentuk bangun yang meminimalkan energi kisi (memaksimalkan daya tarik dan meminimalkan tolakan). Energi kisi adalah pencacahan mulai sejak interaksi semua situs dengan semua situs lainnya. Kerjakan ion berbentuk bola yang lain terpolarisasi, energi interaksi elektrostatik bisa dihitung hanya berpangkal muatan dan jarak ion-ion tersebut. Dengan struktur intan buatan ideal, semua jarak antar penyusun memiliki kaitan geometris dengan jarak terkecil antar inti. Kaprikornus, bikin setiap struktur intan imitasi nan mungkin, gaya elektrostatik total boleh dihitung berpokok kecondongan elektrostatik muatan satuan pada jarak tetangga terdekat dengan konstanta perbanyakan nan disebut konstanta Madelung[21]
yang dapat dihitung secara efisien dengan menunggangi penghitungan Ewald.[30]
Bila bentuk nan wajar diasumsikan lakukan energi repulsif pelengkap, energi jeruji besaran dapat dimodelkan dengan menggunakan pertepatan Born–Landé,[31]
persamaan Born–Mayer, atau jika tidak ada informasi struktur, menggunakan paralelisme Kapustinskii.[32]

Dengan menggunakan kamil yang makin sederhana adalah ion bak bola gigih nan tak tertembus, susunan anion n domestik sistem ini sering dikaitkan dengan pengaturan bola tetal-rapat (close-packed), dengan kation yang menempati interstisi tetrahedral atau oktahedral.[33]
[34]
Mengelepai puas rasio stoikiometri campuran ionik yang terlibat, dan bilangan penyelarasan (terutama ditentukan oleh rasio deriji-ujung tangan) kation dan anion, berbagai struktur dapat diamati,[35]
dan secara pola dirasionalisasi maka dari itu aturan Pauling.[36]

Baca :   Terangkan Yang Dimaksud Dengan Grip Dalam Tenis Meja
Struktur senyawa ionik umum dengan anion tetal-berpasangan[35]
Stoikiometri Penyelarasan kation:anion Titik interstisi Tetal rapat kubus anion Tetal mepet heksagonal anion
penaruhan rasio terali tanggap nama konstanta Madelung nama konstanta Madelung
MX 6:6 semua oktahedral 0,4142[33] garam dapur 1,747565[37] nikelin <1,73[a]
[38]
4:4 selang-seling tetrahedral 0.2247[39] zinkblende 1,6381[37] wurtzit 1,641[5]
MX2 8:4 semua tetrahedral 0,2247 fluorit 5,03878[40]
6:3 setengah oktahedral (lapisan berseling terisi penuh) 0,4142 kadmium klorida 5,61[41] kadmium iodida 4,71[40]
MX3 6:2 sepertiga oktahedral 0,4142 rodium(III) bromida[b]
[42]
[43]
6,67[44]
[c]
bismut iodida 8,26[44]
[d]
M2X3
6:4 dua pertiga oktahedral 0,4142 korundum 25,0312[40]
ABO3 dua pertiga oktahedral 0,4142 ilmenit tersidai plong barang bawaan dan struktur
[e]
AB2O4
seperdelapan tetrahedral dan satu setengah oktahedral r
A/r
O = 0,2247;
r
B/r
O = 0,4142[f]
spinel, spinel terbalik tergantung pada perputaran situs kation[47]
[48]
[49]
olivin tergantung pada peredaran situs kation[50]

Dalam sejumlah kasus anion mengambil tetal dus sederhana, dan struktur umum yang dihasilkan teramati adalah:

Struktur senyawa ionik publik dengan anion tetal kubus terlambat[43]
Stoikiometri Pengharmonisan kation:anion Pencantuman bintik interstisi Kamil struktur
cap skala ujung tangan-jari tanggap konstanta Madelung
MX 8:8 seluruhnya terisi sesium klorida 0,7321[51] 1,762675[37]
MX2 8:4 sekeping terisi kalsium fluorida
M2X 4:8 setengah terisi litium oksida

Beberapa cairan ionik, terutama dengan campuran anion maupun kation, dapat didinginkan dengan memadai cepat sehingga tidak layak waktu terjadi nukleasi kristal, maka terbentuklah beling ionik (tanpa tatanan jarak jauh).[52]

Cacat

[sunting
|
sunting sendang]

Diagram of charged ions with a positive ion out of place in the structure

cacat Frenkel

Diagram of charged ions with a positive and negative missing from the structure

invalid Schottky

Dalam kristal ionik, biasanya akan cak semau sejumlah tutul cacat, yang hadir berpasangan bakal mempertahankan kenetralan pikulan.[53]
Cacat Frenkel terdiri dari kekosongan kation yang mepet dengan interstisi kation dan dapat dihasilkan di manapun dalam ruah batu belanda,[53]
terjadi minimum masyarakat pada paduan dengan bilangan koordinasi abnormal dan kation nan jauh lebih katai daripada anion.[54]
Cacat Schottky terdiri dari satu kekosongan tiap-tiap pikulan, dan dihasilkan sreg bidang kristal,[53]
terjadi minimum umum lega sintesis dengan takdir koordinasi tangga dan bila anion dan kation memiliki ukuran yang mirip.[54]
Jika kation mempunyai beberapa probabilitas tingkat oksidasi, maka kekosongan kation dapat mengompensasi kehabisan elektron pada lokasi kation dengan bilangan oksidasi makin tinggi, menghasilkan senyawa yang tidak menirukan perbandingan stoikiometri.[53]
Kebolehjadian non-stoikiometri lainnya yaitu pembentukan kancing-F, elektron bebas yang menempati kemusykilan anion.[55]
Bila paduan memiliki tiga maupun kian komponen ionik, semakin banyak variasi tekor nan mungkin terjadi.[53]
Semua bintik cacat ini dapat dihasilkan menerobos vibrasi termal dan memiliki konsentrasi kesetimbangan. Karena cacat-cacat ini membutuhkan energi lebih strata hanya menguntungkan secara entropis, mereka terjadi dalam pemfokusan yang lebih segara saat suhu makin janjang. Setelah terjaga, oponen cacat ini boleh berdifusi secara terpisah satu ekuivalen bukan, dengan melompat antar situs kisi. Mobilitas minus ini adalah sumber fenomena transportasi paling banyak privat intan buatan ionik, termasuk difusi dan daya hantar ionik benda padat [en].[53]
Saat kekosongan bertabrakan dengan interstisi (Frenkel), mereka dapat bergabung kembali dan saling membasmi. Demikian kembali kekosongan akan hilang saat mereka hingga ke bidang kristal (Schottky). Cacat pada struktur batu belanda rata-rata memperluas parameter celah, mengurangi keseluruhan densitas kristal.[53]
Kurang juga menghasilkan ion-ion di lingkungan tempatan nan berbeda, sehingga mengalami simetri medan kristal nan berlainan, terutama dalam kasus kation berlainan yang bertukar situs celah.[53]
Kejadian ini menghasilkan pemisahan orbital elektron-d yang berbeda, sehingga penyerapan optik (dan juga warna) senyawa ion dapat berubah seiring dengan konsentrasi defek.[53]

Aturan-sifat

[sunting
|
sunting perigi]


Keasaman/Alkalinitas

[sunting
|
sunting perigi]

Sintesis ionik nan mengandung ion hidrogen (H+
) diklasifikasikan sebagai asam, dan yang mengandung kation elektropositif[56]
dan anion basa ion hidroksida (OH
) atau ion oksida (O2−
) diklasifikasikan sebagai basa. Senyawa ion lainnya dikenal sebagai garam dan bisa terlatih melampaui reaksi asam–basa.[57]
Seandainya senyawa tersebut yakni hasil reaksi antara asam langgeng dan basa lemah, hasilnya yakni garam senderut. Reaksi antara basa kuat dan asam teklok, menghasilkan garam basa. Hasil reaksi antara bersut abadi dan basa abadi, menghasilkan garam nonblok. Asam langlai yang direaksikan dengan basa teklok dapat menghasilkan senyawa ionik dengan ion basa konjugat maupun ion bersut konjugat, sebagaimana amonium asetat.

Beberapa ion dikelompokkan misal amfoter, mewah bereaksi dengan bersut alias basa.[58]
Hal ini juga main-main bagi beberapa paduan dengan aturan ionik, biasanya oksida atau hidroksida dari logam-ferum nan kurang elektropositif (sehingga senyawa tersebut juga memiliki sifat kovalen yang penting), seperti seng oksida, aluminium hidroksida, aluminium oksida dan imbang(II) oksida.[59]

Noktah lebur dan noktah didih

[sunting
|
sunting sumber]

Kecenderungan elektrostatik antar atom semakin kuat ketika muatan listriknya tinggi dan jarak antar inti ion kecil. Paduan dengan sifat ini lazimnya mempunyai titik leleh dan titik didih yang sangat pangkat dan tekanan uap rendah.[60]
Tinggi maupun rendahnya bintik bertabur bisa dijelaskan dengan lebih baik bila struktur dan rasio dimensi ion diperhitungkan.[61]
Di atas titik leburnya, padatan ionik mengirik dan menjadi garam hancuran (dengan pengecualian beberapa senyawa ionik begitu juga aluminium klorida dan ferum(III) klorida yang menunjukkan struktur begitu juga zarah dalam fase cairnya).[62]
Fusi anorganik dengan ion sederhana biasanya mempunyai ion kecil, dan dengan demikian mempunyai titik lebur yang tinggi dan berwujud padatan pada hawa kamar. Sebaliknya, bilang zat dengan ion yang lebih besar memiliki titik lumer di bawah master kamar atau mendekatinya (gegares didefinisikan sampai dengan 100 °C), dan disebut cair ionik.[63]
Ion intern cairan ionik sering kali memiliki distribusi kewajiban yang tidak rata, alias substituen segara seperti rantai hidrokarbon, yang pun dolan dalam menentukan kekuatan interaksi dan kecenderungan bikin meleleh.[64]

Dalam bentuk lelehan, sekalipun struktur domestik dan ikatan padatan ionik sudah lalu cukup terganggu, masih ada tendensi tarik elektrostatik jarak jauh yang lestari yang menahan cairan bersama-sebanding dan mencegah ion-ion penyusunnya mendidih kerjakan menciptakan menjadikan fasa asap.[65]
Ini berjasa bahwa senyawa ionik berwujud cair punya tekanan uap rendah dan memerlukan suhu nan jauh lebih tataran bikin mendidih, tertera lebih-lebih hancuran ionik temperatur kamar.[65]
Noktah didih menunjukkan kecenderungan seperti bintik melemah privat hubungannya dengan ukuran ion dan kekuatan interaksi lainnya.[65]
Bila senyawa ionik diuapkan, ion-ionnya masih belum terpisah satu setara bukan. Misalnya, dalam fase uap natrium klorida berada laksana “molekul” diatomik.[66]

Kerapuhan

[sunting
|
sunting sumber]

Sebagian lautan campuran ionik sangat rapuh. Serupa itu mencapai batas kekuatannya, senyawa-senyawa ini tidak boleh diubah bentuknya dengan jalan ditempa, karena keteraturan posisi ion kasatmata dan destruktif lain bisa dijaga lagi. Akibatnya, material mengalami fraktur melalui pembelahan.[67]
Ketika suhu dinaikkan (kebanyakan membidik noktah luluh) terjadi transisi fleksibel–rapuh, dan diseminasi lentur menjadi barangkali terjadi akibat gerak dislokasi.[67]
[68]

Kompresibilitas

[sunting
|
sunting sumber]

Kompresibilitas (ketermampatan) senyawa ion sangat ditentukan oleh strukturnya, dan khususnya bilangan koordinasinya. Misalnya, senyawa halida dengan struktur cesium klorida (bilangan pengharmonisan 8) tekor termampatkan dibandingkan dengan struktur garam dapur (bilangan koordinasi 6), dan kurang lagi dibandingkan dengan garis hidup koordinasi 4.[69]

Kelarutan

[sunting
|
sunting sumber]

Bila sintesis ion sagu betawi, ion bani adam terdisosiasi (tersebar), tersolvasi (berinteraksi dengan pelarut), dan tersebar di seluruh cair yang dihasilkan.[70]
Karena ion menjadi ampunan di dalam larutan saat dilarutkan dan dapat mengapalkan bahara, larutannya senyawa ion memiliki konduktivitas listrik jenjang, dan senyawa tersebut adalah variasi elektrolit awet yang paling umum.[71]

Kelarutan berbagai senyawa ion dalam air andai fungsi suhu. Sudah disertakan bilang campuran yang menunjukkan perilaku kelarutan yang enggak halal.

Senyawa ionik minimal mudah larut intern pelarut polar (sebagaimana air) atau cairan ionik, doang cenderung sulit sagu betawi pada pelarut nonpolar (sama dengan bensin).[72]
Kelarutan nan tinggi terutama diakibatkan oleh interaksi ion–dipol kerumahtanggaan cair nan secara signifikan lebih kuat daripada interaksi dipol nan diinduksi ion, sehingga entalpi cair kian hierarki. Saat ion-ion nan privat kisi ionik padat dikelilingi makanya kutub yang antagonistis berusul partikel polar, ion-ion padat ditarik keluar dari kisi tersebut dan timbrung ke dalam cairan pelarut. Jika energi solvasi melebihi energi kisi, perubahan entalpi larutannya merupakan merusak sehinga memberikan dorongan termodinamika bakal mengeluarkan ion bermula posisi mereka di kerumahtanggaan intan buatan dan larut dalam cairan. Selain itu, perubahan entropi hancuran lazimnya positif untuk zat terlarut padat seperti senyawa ionik, yang berharga kelarutannya meningkat momen temperatur meningkat.[73]
Ada pengecualian merupakan perubahan entropi negatif dalam beberapa campuran ionik yang tidak biasa begitu juga serium(III) sulfat. Hal ini diakibatkan adanya keteraturan tambahan yang diinduksi dalam air momen sagu belanda, sehingga kelarutannya berkurang seiring dengan suhu.[73]

Daya hantar listrik

[sunting
|
sunting sumur]

Lamun senyawa ionik mengandung atom ataupun gugus bermuatan, bahan ini lazimnya bukan mengalirkan listrik secara berarti dalam bentuk padatannya. Konduktivitas rendah ini terjadi karena ion-ionnya belaka hanya tutup mulut dalam kisi intan imitasi, sedangkan bakal mengalirkan listrik zarah bermuatan harus dalam kondisi bergerak. Daya hantar dapat dicapai hingga tingkat tertentu pada suhu jenjang detik konsentrasi cacat meningkatkan mobilitas ionik dan konduktivitas ionik benda padat [en]
dapat diamati. Ketika dilarutkan kerumahtanggaan cairan ataupun dilebur menjadi cairan, campuran ionik boleh menghantarkan elektrik karena ionnya dapat bergerak adil.[74]
Konduktivitas yang diperoleh lega saat dilarutkan maupun dilelehkan ini sekali-kali digunakan laksana ciri khas paduan-fusi ionik.[75]

Baca :   Kemukakan Contoh Penerapan Budaya Demokrasi Di Lingkungan Masyarakat

Pada beberapa senyawa ionik yang bukan mahajana: konduktor ion cepat, dan kaca ionik,[52]
satu atau lebih suku cadang ioniknya punya mobilitas nan signifikan, sehingga memungkinkan daya hantar meskipun material tetap n domestik kondisi padat.[76]
Resan ini gelojoh tergantung kepada suhu, dan mungkin merupakan hasil dari perlintasan fase atau pemfokusan defek nan tinggi.[76]
Bahan-bulan-bulanan ini digunakan di semua superkapasitor benda padat, lampu senter, dan sel bahan bakar, dan kerumahtanggaan berbagai ragam varietas sensor kimia.[77]
[78]

Warna

[sunting
|
sunting sumur]

serbuk biru pada kaca arloji

tumpukan granula merah di atas kertas putih

Kobalt(II) klorida heksahidrat,

CoCl2·6H2Ozon

Warna sintesis ionik rajin mana tahu berbeda dengan warna hancuran berair yang mengandung ion-ion nan sama,[79]
maupun dengan bentuk hidrat dari campuran yang sepadan.[14]

Anion dalam senyawa dengan koneksi dengan karakter ionik kuat berkiblat tak berwarna (dengan pita serapan di bagian cak cakupan ultraviolet).[80]
Semakil lemah karakter ionik senyawa, warnanya semakin ekstrem, tiba dari kuning, oranye, merah dan hitam (karena pita serapan gelesot ke tahapan gelombang yang bertambah panjang ke dalam jangkauan binar tampak).[80]

Tali tap absorpsi kation sederhana punya kecondongan bergeser ke sisi hierarki gelombang nan lebih pendek detik makin banyak terlibat internal interaksi kovalen.[80]
Hal ini terjadi selama hidrasi ion metal, sehingga fusi ionik anhidrat yang enggak berwarna dengan anion nan menyerap inframerah dapat menjadi beraneka warna privat larutannya.[80]

Kegunaan

[sunting
|
sunting sendang]

Sintesis-senyawa ionik telah lama n kepunyaan beragam kegunaan dan aplikasi. Banyak mineral yakni paduan ionik.[81]
Khalayak telah mengolah natrium klorida (natrium klorida, sebuah senyawa ionik) selama makin pecah 8000 tahun, awalnya seumpama bumbu rahim dan pengawet, dan sekarang juga digunakan di industri-pabrik, di rataan pertanian, pengkondisian air, cak bagi mencairkan es di jalan momen perian campah, dan banyak kegunaan lainnya.[82]
Banyak senyawa ionik begitu umum digunakan maka itu masyarakat sehingga dikenal dengan nama-nama umum yang tidak terkait dengan identitas kimia mereka. Contohnya termasuk boraks, kalomel, susu magnesia, bersut muriatat, petro vitriol, sendawa, dan kapur mati.[83]

Senyawa ionik yang mudah larut seperti garam bisa dengan mudah menghasilkan larutan elektrolit. Ini ialah cara sederhana untuk mengendalikan pemusatan dan kekuatan ion. Konsentrasi zat terlarut mempengaruhi banyak sifat koligatif, termasuk meningkatkan impitan osmotik, menurunkan titik beku dan menaikkan titik didih.[84]
Oleh karena zat terlarutnya adalah ion bermuatan, maka daya hantar listrik cair lagi meningkat.[85]
Khasiat ion yang meningkat ini mengurangi ketebalan lapisan ganda listrik di sekitar anasir koloid, dan juga stabilitas emulsi dan suspensi.[86]

Identitas kimia dari ion nan ditambahkan juga terdepan dalam banyak kegunaan. Misalnya, sintesis yang mengandung fluorida dilarutkan untuk memasok ion fluorida pada fluoridasi air.[87]

Senyawa ion padat sudah lalu lama digunakan sebagai pigmen cat, dan tahan terhadap pelarut organik, tetapi responsif terhadap keasaman atau kebasaan.[88]
Sejak 1801 para piroteknisi telah menggambarkan dan banyak menggunakan senyawa ionik yang mengandung logam sebagai sumber warna internal kembang api.[89]
Di bawah sensual yang hebat, elektron dalam ion ferum atau molekul katai boleh tereksitasi.[90]
Elektron ini kemudian pula ke keadaan berkemampuan kian terbatas, sehingga melepaskan cuaca dengan spektrum dandan nan merupakan ciri khas jenis yang dikandungnya.[91]
[92]

Dalam kimia, sintesis ionik pelalah digunakan sebagai prekursor untuk sintesis zat padat guru tinggi.[93]

Di antara besi-logam yang paling luber di kerak bumi, banyak yang ditemukan internal bijih nan yaitu senyawa ionik.[94]
Untuk mendapatkan unsurnya, bijih ini diproses dengan peleburan atau elektrolisis, yang melibatkan reaksi redoks (sering kali dengan reduktor sebagai halnya karbon) sehingga ion besi mendapatkan elektron menjadi atom netral.[95]
[96]

Tata nama

[sunting
|
sunting mata air]

Menurut manajemen tanda yang direkomendasikan oleh IUPAC, senyawa ionik dinamai sesuai komposisi mereka, bukan strukturnya.[97]
Internal kasus yang minimal tercecer, yaitu paduan ionik biner dengan doang satu kemungkinan muatan dan perbandingan stoikiometrinya, jenama publik ditulis memperalat dua kata.[98]
Nama kation (sekiranya kation terdiri pecah satu atom, nama unsurnya saja nan disebut) unjuk lebih lalu, diikuti dengan jenama anion.[99]
[100]
Sebagai acuan,
MgCl2

diberi nama magnesium klorida, dan
Na2SO4

diberi nama natrium sulfat (SO
2−
4

, sulfat, yakni abstrak ion poliatomik). Bagi mendapatkan rumus empiris berbunga nama-nama ini, perbandingan stoikiometrinya dapat disimpulkan berasal bahara ion penyusunnya, dengan premis bahwa pikulan total harus independen.

Jika ada beberapa kation dan/atau anion yang berbeda, awalan multiplikatif atau multiplikator (di-,
tri-,
tetra-, …) sering diperlukan cak bagi menunjukkan tata letak relatif,[101]
dan kation kemudian anion dicantumkan dalam urutan sesuai fonem.[102]
Sebagai contoh,
KMgCl3

diberi tera kalium magnesium triklorida untuk membedakannya dari
K2MgCl4
, dikalium magnesium tetraklorida[103]
(perhatikan bahwa baik dalam rumus empiris dan keunggulan tertulis, kation diurutkan sesuai abjad).[104]
Bila salah suatu ion sudah memiliki awalan multiplikatif n domestik namanya, digunakan anju multiplikator alternatif (bis-,
tris-,
tetrakis-, …).[105]
Sebagai teoretis,
Ba(BrF4)2

diberi merek barium bis(tetrafluoridobromat).[106]

Senyawa yang mengandung satu atau kian anasir yang dapat memiliki plural beban atau kadar oksidasi akan punya rumus stoikiometri nan berbeda pula, gelimbir plong bilangan oksidasinya. Peristiwa ini boleh ditunjukkan dalam keunggulan dengan menentukan tingkat oksidasi dari unsur-unsur nan ada, atau muatan ionnya.[106]
Karena boleh terjadi kerancuan saat menunjukkan bilangan oksidasi, IUPAC lebih memintal menunjukkan langsung jumlah muatan ionik.[106]
Ini ditulis ibarat bilangan bulat dalam angka arab diikuti oleh stempel (… , 2−, 1−, 1+, 2+, …) dalam tanda lingkung secara langsung setelah label kation (tanpa spasi nan memisahkannya).[106]
Sebagai contoh,
FeSO4

diberi nama besi(2+) sulfat (karena ion
Fe2+

bermuatan 2+, seimbang dengan muatan 2− ion sulfat), sementara itu
Fe2(SO4)3

dinamakan besi(3+) sulfat (karena dua ion besi di setiap satuan rumus masing-masing bermuatan 3+, ekuivalen dengan tiga ion sulfat yang masing-masing bermuatan 2−).[106]
Nomenklatur Stock, masih umum digunakan, menulis bilangan oksidasi internal angka Romawi (… , −II, −I, 0, I, II, …). Dengan nomenklatur ini,
FeSO4

yaitu ferum(II) sulfat padahal
Fe2(SO4)3

merupakan metal(III) sulfat.[107]
Cak bagi ion sederhana, muatan ion persis sama dengan kodrat oksidasi, tetapi cak bagi ion poliatomik kedua takdir ini buruk perut mungkin berbeda. Misalnya, ion uranil(2+),
UO
2+
2

, mempunyai uranium dengan tingkat oksidasi +6, kaprikornus akan disebut ion dioksouranium(VI) n domestik tata tera Stock.[108]
Cak semau sebuah sistem penamaan yang lebih renta bagi kation logam, juga masih banyak digunakan, yang menambahkan akhiran
-udara murni
dan
-i
ke akar bahasa Latin dari label tersebut, untuk membagi logo khusus bikin tingkat oksidasi terbatas dan tinggi.[109]
Misalnya, skema ini menunggangi “fero” dan “feri”, sendirisendiri bagi besi(II) dan besi(III),[109]
sehingga
FeSO4

dinamakan fero sulfat sementara itu
Fe2(SO4)3

yaitu feri sulfat.

Lihat kembali

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ikatan dalam padatan
  • Ioliomik
  • Aliansi ionik

Catatan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Keberagaman struktur ini memiliki parameter kisi variabel rasio c/a, dan konstanta Madelung yang tepat bergantung plong hal ini.

  2. ^

    Struktur ini telah disebut dalam wacana misal itrium(III) klorida dan kromium(III) klorida, namun keduanya sekarang dikenal sebagai tipe struktur RhBr3.

  3. ^

    Referensi tersebut mengeluh struktur ini sebagai MoCl3, yang saat ini dikenal sebagai struktur RhBr3.

  4. ^

    Wacana merintih struktur ini sebagai FeCl3, yang waktu ini dikenal sebagai tipe struktur BiI3.

  5. ^

    Spesies struktur ini dapat menimbuk muatan apapun pada A dan B yang ditambahkan hingga enam. Bila keduanya ialah tiga struktur pikulan yang setara dengan korundum.[45]
    Strukturnya pun mempunyai penanda kisi lentur c/a, dan konstanta Madelung nan tepat gelimbir pada kejadian ini.

  6. ^

    Namun, intern beberapa kasus seperti
    MgAl2O4

    kation yang lebih besar menempati situs tetrahedral nan makin kecil.[46]

Bacaan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^



    Michael Faraday (1791–1867). UK: BBC.





  2. ^


    “Online etymology dictionary”. Diakses copot
    2011-01-07
    .





  3. ^


    Bragg, W. H.; Bragg, W. L. (1 July 1913). “The Reflection of X-rays by Crystals”.
    Proceedings of the Sokah Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences.
    88
    (605): 428–438. Bibcode:1913RSPSA..88..428B. doi:10.1098/rspa.1913.0040.





  4. ^


    Bragg, W. H. (22 September 1913). “The Reflection of X-rays by Crystals. (II.)”.
    Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences.
    89
    (610): 246–248. Bibcode:1913RSPSA..89..246B. doi:10.1098/rspa.1913.0082.




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Sherman, Jack (August 1932). “Crystal Energies of Ionic Compounds and Thermochemical Applications”.
    Chemical Reviews.
    11
    (1): 93–170. doi:10.1021/cr60038a002.





  6. ^


    James, R. W.; Brindley, G. W. (1 November 1928). “A Quantitative Study of the Reflexion of X-Rays by Sylvine”.
    Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences.
    121
    (787): 155–171. Bibcode:1928RSPSA.121..155J. doi:10.1098/rspa.1928.0188.





  7. ^

    Pauling 1960, hlm. 505.

  8. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 312.
  9. ^


    a




    b




    c



    Wold & Dwight 1993, hlm. 71.
  10. ^


    a




    b



    Wold & Dwight 1993, hlm. 82.

  11. ^


    Wenk, Hans-Rudolf; Bulakh, Andrei (2003).
    Minerals: their constitution and origin
    (edisi ke-Reprinted with corrections.). New York: Cambridge University Press. hlm. 351. ISBN 978-0-521-52958-7.




  12. ^


    a




    b



    Zumdahl 1989, hlm. 133–140.

  13. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 144–145.
  14. ^


    a




    b



    Brown 2009, hlm. 417.

  15. ^

    Wold & Dwight 1993, hlm. 79.

  16. ^

    Wold & Dwight 1993, hlm. 79–81.

  17. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 312–313.

  18. ^

    Barrow 1988, hlm. 161–162.

  19. ^

    Pauling 1960, hlm. 6.

  20. ^

    Kittel 2005, hlm. 61.
  21. ^


    a




    b




    c



    Pauling 1960, hlm. 507.

  22. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 379.
  23. ^


    a




    b



    Pauling 1960, hlm. 65.

  24. ^


    Hannay, N. Bruce; Smyth, Charles P. (February 1946). “The Dipole Moment of Hydrogen Fluoride and the Ionic Character of Bonds”.
    Journal of the American Chemical Society.
    68
    (2): 171–173. doi:10.1021/ja01206a003.





  25. ^


    Pauling, Linus (1948). “The maju theory of valency”.
    Journal of the Chemical Society (Resumed): 1461–1467. doi:10.1039/JR9480001461.





  26. ^


    Lalena, John. Ufuk.; Cleary, David. A. (2010).
    Principles of inorganic materials design
    (edisi ke-2nd). Hoboken, N.J: John Wiley. ISBN 978-0-470-56753-1.





  27. ^


    Pearson, Ralph G. (November 1963). “Hard and Soft Acids and Bases”.
    Journal of the American Chemical Society.
    85
    (22): 3533–3539. doi:10.1021/ja00905a001.





  28. ^


    Pearson, Ralph G. (October 1968). “Hard and soft acids and bases, HSAB, part II: Underlying theories”.
    Journal of Chemical Education.
    45
    (10): 643. Bibcode:1968JChEd..45..643P. doi:10.1021/ed045p643.





  29. ^

    Barrow 1988, hlm. 676.

  30. ^

    Kittel 2005, hlm. 64.

  31. ^

    Pauling 1960, hlm. 509.

  32. ^


    Carter, Robert (2016). “Lattice Energy”
    (PDF).
    CH370 Lecture Material
    . Diakses terlepas
    2016-01-19
    .




  33. ^


    a




    b



    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 383.

  34. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 444–445.
  35. ^


    a




    b




    Moore, Lesley E. Smart; Elaine A. (2005).
    Solid state chemistry: an introduction
    (edisi ke-3.). Boca Raton, Fla. [u.a.]: Taylor & Francis, CRC. hlm. 44. ISBN 978-0-7487-7516-3.





  36. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 382–387.
  37. ^


    a




    b




    c



    Kittel 2005, hlm. 65.

  38. ^


    Zemann, J. (1 January 1958). “Berechnung von Madelung’schen Zahlen für den NiAs-Typ”.
    Acta Crystallographica.
    11
    (1): 55–56. doi:10.1107/S0365110X5800013X.





  39. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 386.
  40. ^


    a




    b




    c




    Dienes, Richard J. Borg, G.J. (1992).
    The physical chemistry of solids. Boston: Academic Press. hlm. 123. ISBN 978-0-12-118420-9.





  41. ^


    Brackett, Thomas E.; Brackett, Elizabeth B. (1965). “The Lattice Energies of the Alkaline Earth Halides”.
    Journal of Physical Chemistry.
    69
    (10): 3611–3614. doi:10.1021/j100894a062.





  42. ^


    “YCl3 – Yttrium trichloride”.
    ChemTube3D. University of Liverpool. 2008. Diakses copot
    19 January
    2016
    .




  43. ^


    a




    b




    Ellis, Arthur B. []; et al. (1995).
    Teaching general chemistry: a materials science companion
    (edisi ke-3. print). Washington: American Chemical Society. hlm. 121. ISBN 0-8412-2725-X.




  44. ^


    a




    b




    Hoppe, R. (January 1966). “Madelung Constants”.
    Angewandte Chemie International Edition in English.
    5
    (1): 95–106. doi:10.1002/anie.196600951.





  45. ^


    Bhagi, Ajay; Raj, Gurdeep (2010).
    Krishna’s IAS Chemistry. Meerut: Krishna Prakashan Ki alat. hlm. 171. ISBN 978-81-87224-70-9.





  46. ^

    Wenk & Bulakh 2004, hlm. 778.

  47. ^


    Verwey, E. J. W. (1947). “Physical Properties and Cation Arrangement of Oxides with Spinel Structures I. Cation Arrangement in Spinels”.
    Journal of Chemical Physics.
    15
    (4): 174–180. Bibcode:1947JChPh..15..174V. doi:10.1063/1.1746464.





  48. ^


    Verwey, E. J. W.; de Boer, F.; van Santen, J. H. (1948). “Cation Arrangement in Spinels”.
    The Journal of Chemical Physics.
    16
    (12): 1091. Bibcode:1948JChPh..16.1091V. doi:10.1063/1.1746736.





  49. ^


    Thompson, P.; Grimes, N. W. (27 September 2006). “Madelung calculations for the spinel structure”.
    Philosophical Magazine. Vol. 36 no. 3. hlm. 501–505. Bibcode:1977PMag…36..501T. doi:10.1080/14786437708239734.





  50. ^


    Alberti, A.; Vezzalini, G. (1978). “Madelung energies and cation distributions in olivine-type structures”.
    Zeitschrift für Kristallographie – Crystalline Materials.
    147
    (1–4): 167–176. doi:10.1524/zkri.1978.147.14.167.





  51. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 384.
  52. ^


    a




    b




    Souquet, J (October 1981). “Electrochemical properties of ionically conductive glasses”.
    Solid State Ionics.
    5: 77–82. doi:10.1016/0167-2738(81)90198-3.




  53. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    Schmalzried, Hermann. “Point defects in ternary ionic crystals”.
    Progress in Solid State Chemistry.
    2: 265–303. doi:10.1016/0079-6786(65)90009-9.




  54. ^


    a




    b




    Prakash, Satya (1945).
    Advanced inorganic chemistry. New Delhi: S. Chand & Company Ltd. hlm. 554. ISBN 978-81-219-0263-2.





  55. ^

    Kittel 2005, hlm. 376.

  56. ^

    http://www.wou.edu/las/physci/ch412/oxides.html

  57. ^


    Whitten, Kenneth W.; Galley, Kenneth D.; Davis, Raymond E. (1992).
    General Chemistry
    (edisi ke-4th). Saunders. hlm. 128. ISBN 0-03-072373-6.





  58. ^


    Davidson, David (November 1955). “Amphoteric molecules, ions and salts”.
    Journal of Chemical Education.
    32
    (11): 550. Bibcode:1955JChEd..32..550D. doi:10.1021/ed032p550.





  59. ^


    Weller, Mark; Overton, Tina; Rourke, Jonathan; Armstrong, Fraser (2014).
    Inorganic chemistry
    (edisi ke-Sixth). Oxford: Oxford University Press. hlm. 129–130. ISBN 978-0-19-964182-6.





  60. ^

    McQuarrie & Rock 1991, hlm. 503.

  61. ^


    Pauling, Linus (1928-04-01). “The Influence of Relative Ionic Sizes on the Properties of Ionic Compounds”.
    Journal of the American Chemical Society.
    50
    (4): 1036–1045. doi:10.1021/ja01391a014. ISSN 0002-7863.





  62. ^


    Tosi, M. P. (2002). Gaune-Escard, Marcelle, ed.
    Molten Salts: From Fundamentals to Applications. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 1. ISBN 978-94-010-0458-9.





  63. ^

    Freemantle 2009, hlm. 1.

  64. ^

    Freemantle 2009, hlm. 3–4.
  65. ^


    a




    b




    c




    Rebelo, Luis P. N.; Canongia Lopes, José N.; Esperança, José M. S. S.; Filipe, Eduardo (2005-04-01). “On the Critical Temperature, Lazim Boiling Point, and Vapor Pressure of Ionic Liquids”.
    The Journal of Physical Chemistry B.
    109
    (13): 6040–6043. doi:10.1021/jp050430h. ISSN 1520-6106.





  66. ^


    Porterfield, William W. (2013).
    Inorganic Chemistry a Unified Approach
    (edisi ke-2nd). New York: Elsevier Science. hlm. 63–67. ISBN 978-0-323-13894-9.




  67. ^


    a




    b




    Johnston, Ufuk. L.; Stokes, R. J.; Li, C. H. (December 1959). “The ductile–brittle transition in ionic solids”.
    Philosophical Magazine. Vol. 4 no. 48. hlm. 1316–1324. Bibcode:1959PMag….4.1316J. doi:10.1080/14786435908233367.





  68. ^


    Kelly, A.; Tyson, W. R.; Cottrell, A. H. (1967-03-01). “Ductile and brittle crystals”.
    Philosophical Magazine. Vol. 15 no. 135. hlm. 567–586. Bibcode:1967PMag…15..567K. doi:10.1080/14786436708220903. ISSN 0031-8086.





  69. ^


    Stillwell, Charles W. (January 1937). “Crystal chemistry. V. The properties of binary compounds”.
    Journal of Chemical Education.
    14
    (1): 34. Bibcode:1937JChEd..14…34S. doi:10.1021/ed014p34.





  70. ^

    Brown 2009, hlm. 89–91.

  71. ^

    Brown 2009, hlm. 91–92.

  72. ^

    Brown 2009, hlm. 413–415.
  73. ^


    a




    b



    Brown 2009, hlm. 422.

  74. ^


    “Electrical Conductivity of Ionic Compound”. Diakses tanggal
    2 December
    2012
    .





  75. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 341.
  76. ^


    a




    b




    Gao, Wei; Sammes, Nigel M (1999).
    An Introduction to Electronic and Ionic Materials. World Scientific. hlm. 261. ISBN 978-981-02-3473-7.





  77. ^


    West, Anthony R. (1991). “Solid electrolytes and mixed ionic?electronic conductors: an applications overview”.
    Journal of Materials Chemistry.
    1
    (2): 157. doi:10.1039/JM9910100157.





  78. ^


    Boivin, J. C.; Mairesse, G. (October 1998). “Recent Material Developments in Fast Oxide Ion Conductors”.
    Chemistry of Materials.
    10
    (10): 2870–2888. doi:10.1021/cm980236q.





  79. ^

    Pauling 1960, hlm. 105.
  80. ^


    a




    b




    c




    d



    Pauling 1960, hlm. 107.

  81. ^

    Wenk & Bulakh 2004, hlm. 774.

  82. ^


    Kurlansky, Mark (2003).
    Salt: a world history
    (edisi ke-1st). London: Vintage. ISBN 978-0-09-928199-3.





  83. ^


    Lower, Simon (2014). “Naming Chemical Substances”.
    Chem1
    General Chemistry Virtual Textbook

    . Diakses copot
    14 January
    2016
    .





  84. ^

    Atkins & de Paula 2006, hlm. 150–157.

  85. ^

    Atkins & de Paula 2006, hlm. 761–770.

  86. ^

    Atkins & de Paula 2006, hlm. 163–169.

  87. ^


    Reeves TG. Centers for Disease Control. Water fluoridation: a manual for engineers and technicians [PDF]; 1986 [cited 2016-01-18].

  88. ^


    Satake, M; Mido, Y (1995).
    Chemistry of Colour. Discovery Publishing House. hlm. 230. ISBN 978-81-7141-276-1.





  89. ^

    Russell 2009, hlm. 14.

  90. ^

    Russell 2009, hlm. 82.

  91. ^

    Russell 2009, hlm. 108–117.

  92. ^

    Russell 2009, hlm. 129–133.

  93. ^


    Xu, Ruren; Pang, Wenqin; Huo, Qisheng (2011).
    Modern inorganic synthetic chemistry. Amsterdam: Elsevier. hlm. 22. ISBN 978-0-444-53599-3.





  94. ^

    Zumdahl & Zumdahl 2015, hlm. 822.

  95. ^

    Zumdahl & Zumdahl 2015, hlm. 823.

  96. ^


    Gupta, Chiranjib Kumar (2003).
    Chemical metallurgy principles and practice. Weinheim: Wiley-VCH. hlm. 359–365. ISBN 978-3-527-60525-5.





  97. ^

    IUPAC 2005, hlm. 68.

  98. ^

    IUPAC 2005, hlm. 70.

  99. ^

    IUPAC 2005, hlm. 69.

  100. ^


    Kotz, John C.; Treichel, Paul M; Weaver, Gabriela C. (2006).
    Chemistry and Chemical Reactivity
    (edisi ke-Sixth). Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole. hlm. 111. ISBN 0-534-99766-X.





  101. ^

    IUPAC 2005, hlm. 75–76.

  102. ^

    IUPAC 2005, hlm. 75.

  103. ^


    Gibbons, Cyril S.; Reinsborough, Vincent C.; Whitla, W. Alexander (January 1975). “Crystal Structures of K2MgCl4
    and Cs2MgCl4“.
    Canadian Journal of Chemistry.
    53
    (1): 114–118. doi:10.1139/v75-015.





  104. ^

    IUPAC 2005, hlm. 76.

  105. ^

    IUPAC 2005, hlm. 76–77.
  106. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    IUPAC 2005, hlm. 77.

  107. ^

    IUPAC 2005, hlm. 77–78.

  108. ^


    Fernelius, W. Conard (November 1982). “Numbers in chemical names”.
    Journal of Chemical Education.
    59
    (11): 964. Bibcode:1982JChEd..59..964F. doi:10.1021/ed059p964.




  109. ^


    a




    b



    Brown 2009, hlm. 38.
Baca :   Mengapa Lelehan Senyawa Kovalen Polar Tidak Dapat Menghantarkan Listrik

Daftar teks

[sunting
|
sunting mata air]

  • Ashcroft, Neil W.; Mermin, Kaki langit. David (1977).
    Solid state physics
    (edisi ke-27th repr.). New York: Holt, Rinehart and Winston. ISBN 0-03-083993-9.



  • Atkins, Peter; de Paula, Julio (2006).
    Atkins’ physical chemistry
    (edisi ke-8th). Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-870072-2.



  • Barrow, Gordon M. (1988).
    Physical chemistry
    (edisi ke-5th). New York: McGraw-Hill. ISBN 0-07-003905-4.



  • Brown, Theodore L.; LeMay, H. Eugene, Jr; Bursten, Bruce E.; Lanford, Steven; Sagatys, Dalius; Duffy, Neil (2009).
    Chemistry: the central science: a broad perspective
    (edisi ke-2nd). Frenchs Forest, N.S.W.: Pearson Australia. ISBN 978-1-4425-1147-7.



  • Freemantle, Michael (2009).
    An introduction to ionic liquids. Cambridge: Abur Society of Chemistry. ISBN 978-1-84755-161-0.



  • International Union of Pure and Applied Chemistry, Division of Chemical Nomenclature (2005). Neil G. Connelly, ed.
    Nomenclature of inorganic chemistry: IUPAC recommendations 2005
    (edisi ke-New). Cambridge: RSC Publ. ISBN 0-85404-438-8. Diarsipkan bersumber varian zakiah sungkap 2016-02-03. Diakses tanggal
    2021-03-07
    .



  • Kittel, Charles (2005).
    Introduction to solid state physics
    (edisi ke-8th). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons. ISBN 0-471-41526-X.



  • McQuarrie, Donald A.; Rock, Peter A. (1991).
    General chemistry
    (edisi ke-3rd). New York: W.H. Freeman and Co. ISBN 0-7167-2169-4.



  • Pauling, Linus (1960).
    The nature of the chemical bond and the structure of molecules and crystals: an introduction to modern structural chemistry
    (edisi ke-3rd). Ithaca, Cakrawala.Y.: Cornell University Press. ISBN 0-8014-0333-2.



  • Russell, Michael S. (2009).
    The chemistry of fireworks
    (edisi ke-2nd). Cambridge, UK: RSC Pub. ISBN 978-0-85404-127-5.



  • Wenk, Hans-Rudolph; Bulakh, Andrei (2004).
    Minerals: Their Constitution and Origin
    (edisi ke-1st). New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-39390-5.



  • Wold, Aaron; Dwight, Kirby (1993).
    Solid State Chemistry Synthesis, Structure, and Properties of Selected Oxides and Sulfides. Dordrecht: Springer Netherlands. ISBN 978-94-011-1476-9.



  • Zumdahl, Steven S. (1989).
    Chemistry
    (edisi ke-2nd). Lexington, Mass.: D.C. Heath. ISBN 0-669-16708-8.



  • Zumdahl, Steven; Zumdahl, Susan (2015).
    Chemistry: An Atoms First Approach. Cengage Learning. ISBN 978-1-305-68804-9.





Berikut Ini Yang Bukan Merupakan Senyawa Ion Adalah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_ionik

Check Also

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat. Mas Pur Follow Seorang freelance nan suka membagikan pengetahuan, …