Berikut Yang Tidak Terkait Dengan Organisasi Indische Partij Adalah

Berikut Yang Tidak Terkait Dengan Organisasi Indische Partij Adalah.

Mulai sejak Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Indische Partij

Partai Hindia

Ketua awam E.F.E Douwes Dekker
Pembina E.F.E Douwes Dekker
Suwardi Suryaningrat
Tjipto Mangoenkoesoemo
Dibentuk 25 Desember 1912
Dibubarkan 4 Maret 1913
Dipisah semenjak Indische Bond
Diteruskan oleh Insulinde
Kantor pusat Bandoeng, Hindia Belanda
Surat wara-wara De Express
Het Tijdschrifc
Keanggotaan
(1913)
7.000
Ideologi Patriotisme Hindia
Semangat kebangsaan Indonesia

Independence
Posisi politik Kemah osean
Slogan Indie voor Indiers

“Hindia untuk orang Hindia”

Indische cak dol van Holland

“Indonesia independen berusul Belanda”
  • Ketatanegaraan Indonesia
  • Organisasi politik politik
  • Pemilahan umum

Indische Partij
(Partai Hindia) yaitu puak garis haluan pertama di Hindia Belanda. Berdiri tanggal 25 Desember 1912 maka dari itu tiga serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Gapura Hajar Dewantara. Puak ini menjadi organisasi manusia-orang pribumi dan sintesis di Hindia-Belanda[1].

Anggota Partai Indische: (duduk terbit kidal) Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker, R.M. Soewardi Soerjaningrat; (berdiri berasal kiri): F. Berding, G.L. Topée, dan J. Vermaesen.

Latar pantat

[sunting
|
sunting sumber]

Andai koteng Indo, Douwes Dekker merasa terjadinya diskriminasi yang memperbedakan gengsi sosial antara Belanda totok (lugu), Indo (fusi), dan Bumiputera (pribumi) oleh pemerintah Hindia-Belanda. Kedudukan dan nasib para Indo tak jauh berlainan dengan Bumiputera. Indo yang melarat banyak ditemui di Jakarta (Kemayoran), Semarang (Karangbidara), dan Surabaya (Kerambangan). Belanda totok memandang para Indo lebih rendah terbit pada mereka. Pandangan ini kawin diungkapkan internal koran “Bond van geneesheeren” (Ikatan para dokter) puas September 1912. Kerumahtanggaan harian tersebut, para dukun Belanda asli mencela pemerintah yang bermaksud bakal mendirikan Sekolah Mantri kedua (NIAS) di Surabaya yang membengang kerjakan segala apa bangsa. Mereka menganggap kaum Indo nan hina tidak pantas menjadi dokter.
[2]

Menurut Dekker, jika kaum Indo mau merubah nasib, maka mereka harus bekerjasama dengan Bumiputera bikin mengadakan peralihan. Hindia bukan hanya diperuntukkan bakal Belanda totok, sahaja bikin semua cucu adam nan merasa dirinya seorang Hindia. Pandangan ini menjadi dasar berbunga ideologi patriotisme nan di usung oleh Indische Partij.[3]

Dakwaan terhadap atma kolonial mutakadim ada sejak awal abad 20. Sebagai halnya yang dilakukan oleh Tjipto Mangunkusumo yang mengkritisi melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di surat kenyataan
De Locomotief. Menurutnya, mahajana Jawa sulit lakukan maju karena dikungkung makanya foedalisme serta masyarakat secara keseluruhan mengalami eksploitasi nan berlebihan. Hal ini menyebabkan banyaknya kemelaratan dan keterbelakangan sehingga ia nanang kolonialisme harus di akhiri. Menurutnya, cara lakukan mengakhiri penjajahan ialah dengan pertentangan politik. Hal inilah yang menyebabkan Tjipto Mangunkusumo keluar dari Budi Utomo yang enggak sepemikiran dengannya. Kemudian ia bersabung dengan Dekker dan Suwardi Suryaningrat yang sepemikiran dan menciptakan menjadikan Indische Partij.[3]

Padahal Suwardi Suryaningrat atau Burik Hajar Dewantara mencela pemerintah Hindia-Belanda dalam tulisan-tulisannya. Berbagai goresan nan memuat pandangan-pandangannya akan halnya umur umum kolonial yang timpang dimuat kerumahtanggaan koran dan majalah sebagai halnya
Het Tijdschrift
dan
De Expres. Suwardi saling pandang bahwa otoritas golongan Belanda totok terhadap orang Indo dan Bumiputera harus diakhiri karena dilandasi oleh kesewenang-wenangan pemerintah kolonial. Intern tulisannya tersebut, Suwardi menonjolkan pentingnya nasionalisme Hindia dalam setiap perjuangan politik sehingga boleh mengakhiri eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintah.[3]

Berdiri

[sunting
|
sunting sumber]

Di Bandung, sudah sejak lama terdapat organisasi Indo-Eropa seperti organisasi
Indische Bond
yang berdiri musim 1899 (1898) dan organisasi
Insulinde
nan redup masa 1907. Kedua organisasi tersebut berujud untuk mengangkat derajat kaum Indo dalam permukaan sosial-ekonomi dan menjalin jamiah dengan Belanda tanpa meleraikan diri semenjak negara emak. Pemikiran ini tentu saja bertolak belakang dengan Dekker. Dalam pidatonya di hadapan anggota
Indische Bond
tanggal 12 Desember 1911 nan berjudul “Aansluiting tussen blank en bruin” (Gabungan jangat steril dengan indra peraba sawo), Dekker menggalakkan kehidupan kaum Indo untuk memberontak dan melepaskan diri dari pemerintah kolonial. Dan karena jumlah kaum Indo yang sedikit, maka mereka harus bersama-sederajat dengan suku bangsa Bumiputera berjuang dengan kaum Indo menjadi pelopor.[2]

Baca :   Berikut Yang Bukan Merupakan Faktor Pendorong Perdagangan Antar Negara Adalah

Pidatonya tersebut dapat mempengaruhi beberapa anggota
Indische Bond
sehingga terbentuk Panitia Tujuh nan bertugas mempersiapkan pembentukan organisasi baru. Panitia Tujuh tersebut terdiri dari J. R. Agerbeek, J. D. Brunveld van Hulten, G. P. Charli, E. C. I. Couvreur, E. V. E. Douwes Dekker, J van der Poel, dan R. H. Teuscher. Pada tanggal 6 September 1912, Panitia Sapta melakukan satu rapat di asal didikan Dekker di Bandung dan hasilnya terbentuk perhimpunan bau kencur bernama
Indische Partij. Pada sungkap 15 September 1912, tiga tokoh terdepan Indische Partij (E. V. E. Douwes Dekker, J van der Poel, dan J. D. Brunveld van Hulten) bergerak cenderung daerah tingkat-kota Yogyakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Pekalongan, Ladang, dan Cirebon. Di setiap kota nan dikunjungi dilakukan berdampingan-berapatan nan dihadiri oleh berbagai perhimpunan seperti Insulinde Sarekat Islam, Budi Utomo, Kartini Club, Mangunhardjo dan perhimpunan Tiong Hoa Hwee Koan serta mendirikan cabang organisasi politik.[2]

Cipto Mangunkusumo menyatu di Surabaya bersama 70 insan lainnya. Dia jauh-jauh berusul Malang menemui kawan lamanya karena mengawasi paritas visi politiknya dengan Dekker. Sedangkan Suwardi bergabung karena Dekker kagum dengan tulisan-tulisannya di
De Expres
dan
Oetoesan Hindia. Lega November 1912, keduanya ditarik ke Bandung untuk menjadi direktur harian
De Expres.

Dekker menyerahkan pidato di
vergadering
untuk menarik konglomerasi dan ini adalah hal baru di Hindia-Belanda. Pada
vergadering
di Bandung, Dekker mengatakan bahwa berdirinya Indische Partij yakni pernyataan perang, yaitu seri yang terang melawan ketaksaan; peradaban melawan tirani; kebaikan menjajari kejahatan; budak pembayar pajak kolonial mengembalikan negara pemungut pajak, Belanda. Pidatonya yang menggebu dengan mudah menyeret banyak massa. Dalam
vergadering
di Semarang 18 September 1912, sekitar 300 orang datang mendengarkan pidato Dekker.[4]
Bikin hamba allah-makhluk yang tidak dapat bergabung Khuluk Utomo karena bukan orang Jawa, bisa diterima di Indische Partij; orang non-orang islam yang segan berintegrasi dengan Sarekat Islam, dapat dengan leluasa bergerak di Indische Partij; sedemikian itu sekali lagi golongan progresif Budi Utomo nan tak sreg dengan organisasinya, dengan mudah mencari kepuasan politik di Indische Partij; dan turunan-orang Sarekat Selam nan revolusioner, terpenuhi kehendaknya bila masuk Indische Partij.[2]

Karena besarnya antusiasme mahajana Hindia-Belanda terhadap Indische Partij, dalam masa empat rembulan saja mereka telah punya 25 cabang dengan jumlah anggota 5,775 orang. Indische Partij simpang Surabaya momen itu memiliki anggota 827, Semarang 1.375, Jakarta 809, dan Bandung 740 orang.[2]
Indische Partij boleh memukat anggota hingga 7000-an orang dan sekitar 1000-an di antaranya kaum Bumiputera. Indische Partij juga mempunyai 30 cabang di seluruh Hindia-Belanda. Tidak cuma itu, Indische Partij lagi menerima anggota dari keturunan China, Arab, dan lainnya.[5]
[4]

Indische Partij mengerjakan beberapa operasi hendaknya terjadi kerja sepadan antara orang Indo dan Bumiputera. Usaha tersebut diantaranya:

  • Menyerap cita-cita nasional Hindia (Indonesia)
  • Memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik dalam bidang pemerintahan maupun kemasyarakatan
  • Memberantas berbagai propaganda yang mengakibatkan kebencian antaragama
  • Memperbesar kekuasaan pro-Hindia di pemerintahan
  • Berusaha mendapatkan milik kerjakan semua hamba allah Hindia
  • Dalam pengajaran, harus bertujuan bagi kepentingan ekonomi Hindia dan memperkuat ekonomi mereka yang lemah.

Pasca- perjalanan operasi berakhir, pada tanggal 25 Desember 1912 diadakan permusyawaratan wakil-wakil Indische Partij. Kerumahtanggaan permusyawaratan tersebut tersusunlah Anggaran Dasar dan pengurus partai. Kombinasi pengurusnya sebagai berikut:

Baca :   Perhatikan Pengukuran Suhu Berikut Nilai Y Pada Termometer Fahrenheit Adalah

  • Ketua: E.F.E Douwes Dekker
  • Wakil: dr. Tjipto Mangunkusumo
  • Panitia: J.G van Ham
  • Bendahara: G.P Charli
  • Pendamping: J.R Agerbeek dan J.D Brunveld van Hulten

Tunggul hitam dijadikan sebagai bendera puak. Warna hitam tersebut cak semau yang menidakkan sebagai identik rona kulit
indier. Cak semau kembali yang menyangkal sebagai dandan berkabung karena belum merdekanya petak air. Pada pojok kanan, terwalak kempang-jalur triwarna yaitu yunior-merah-dramatis. Corak hijau melambangkan harapan yang akan dicapai yaitu kemakmuran, corak merah melambangkan semangat keberanian partai, dan corak biru melambangkan kepatuhan
indier
terhadap tanah airnya.[2]

Indische Partij adalah puak pertama Indonesia yang menggaungkan otonomi Hindia dengan semboyan “indie untuk indier”. Hindia yaitu rumah kebangsaan (national home) bakal semua orang baik keturunan Bumiputera, Belanda, China, Arab, dan lainnya yang memufakati Hindia perumpamaan kapling air dan kebangsaannya. Reseptif ini dikenal dengan
Indisch Nationalisme
yang kemudian melewati Perguruan tinggi Indonesia dan Organisasi politik Nasional Indonesia menjadi
Indonesisch Nationalisme
ataupun Nasionalisme Indonesia.[2]

Perjuangan validitas hukum

[sunting
|
sunting sumber]

Pada tahun 1913 diumumkan rencana pemerintah lakukan pembentukan Dewan Badal di Hindia Belanda dengan nama
Koloniale Raad
atau Dewan Jajahan. Baik stempel atau perikatan pengurus dewan tak disetujui maka itu publik Bumiputra karena cap Koloniale Raad merupakan hinaan terhadapan pergerakan nasional. Mutakadim dapat dipastikan akan membela kabilah penjajah dan mengabaikan faedah rakyat. Oleh karena itu, sudah sewajarnya Koloniale Raad ditentang para chauvinis. Kabilah nasionalis yang tergabung semenjak berbagai perhimpuan menolak Koloniale Raad dan memaksudkan agar Dewan Perwakilan Rakyat yang tersortir oleh pemerintah Hindia Belanda seimbang, antara pemukim asing dan penghuni pribumi. Beberapa pengurus Serikat Islam cabang Bandung seperti Soewardi Surjaningrat, Abdoel Moeis, dan Akhmad Hassan Wignjadisastra yang ikut terkebat aktif dalam Indische Partij dan mungkin akan mempengaruhi penduduk Bumiputra untuk melawan kolonialis sehingga pemerintah harus berhati-hati.

Pada terlepas 25 Desember 1912, para pemimpin Indische Partij menuju Istana Bogor bagi mendapatkan pengakuan pecah pemerintah Hindia-Belanda. Hal ini berharga agar Indische Partij lain dianggap ibarat perkumpulan liar dan meresahkan. Saat meluluk petisi Dekker untuk syahadat badan hukum atas Indische Partij, pemerintah menugaskan penasihat urusan pribumi yaitu Dr. G.H.J Hazeu untuk menginvestigasi Dekker. Puas 13 Januari 1913, laporan tentang Dekker nan mandraguna tentang latar pinggul pribadi, gagasan dan cita-cita serta kontrol bermula propaganda terhadap publik Hindia-Belanda diserahkan pada Gubernur Jenderal Idenburg.

Pada tanggal 4 Maret 1913, Gubernur Jenderal Idenburg secara baku menolak permohonan pengurus Indische Partij untuk memperoleh status jasmani hukum dengan mengacu sreg pasal 111
Regerings-Reglement
atau Peraturan Pemerintah tahun 1854. Penggunaan pasal itu sendiri cukup membuat pengurus Indische Partij terperanjat karena sudah lama pemerintah Hindia-Belanda bermaksud pergi pasal tersebut.

Setelah mengetahui putusan penolakan, tanggal 5 Maret, Dekker dan pengurus lainnya mengadakan pembicaraan akan halnya anju lebih jauh. Rapat tersebut menghasilkan vonis bagi menafsirkan obstulen pasal 2 adapun intensi Indische Partij. Setelah itu, Dekker kembali menghadap Idenburg, namun kembali ditolak lega surat keputusan terlepas 11 Maret 1913 dengan alasan biarpun bunyi pasal 2 diubah, lain ekuivalen sekali bermaksud merubah asal dan jiwa organisasi. Pada tanggal 13 Maret, Dekker mencoba ke tiga kalinya sahaja tetap ditolak. Saat itu Dekker mempersoalkan tentang apakah pemerintah akan datang akan memberikan kemandirian pada lahan jajahan. Idenburg menggelengkan kepala dan menyatakan bahwa masalah kemerdekaan Hindia-Belanda tidak menjadi soal.[6]
[7]

Dibubarkan

[sunting
|
sunting sumber]

Karena telah ditetapkan sebagai organisasi gelap, pimpinan organisasi politik memutuskan untuk membubarkan Indische Partij lega 31 Maret 1913. Wanti-wanti keladak Dekker cak bagi para anggotanya supaya mereka pindah ke dalam perhimpunan Insulinde yang diakui pemerintah dengan berbekal jiwa Indische Partij. Kegiatan-kegiatannya diteruskan maka itu Insulinde yang berfokus di Semarang. Tanggal 6 September dimana Indische Partij terbentuk diperingati sebagai masa Indische Partij. Kendatipun tindak tegas pemerintah membuahkan hasil sehingga banyak anggota Indische Partij menciut nyalinya, namun
De Expres
teguh bertahan. Pada waktu 1914, kartu nama, plano, dan sejenisnya dengan pernak-pernik Indische Partij masih diiklankan di
De Expres.
[8]

Baca :   Reaksi Berikut Yang Merupakan Reaksi Reduksi Adalah

Tiga sejaras terus melantunkan gugatan mereka terhadap pemerintah melalui
De Expres. Sebagaimana momen pemerintah Hindia-Belanda bermaksud memestakan ulang tahun ke-100 tahun kebebasan Belanda dari Napoleon Bonaparte di Hindia-Belanda dengan menganjur biaya dari rakyat, mereka membentuk “Komite Bumiputera”. Komite ini nantinya memberikan bacot selamat kepada aji dan memintanya untuk membedol pasal 111 R.R. dan segera mengadakan satu Parlemen Hindia.[2]

Sedangkan Suwardi Suryaningrat membuat tulisan yang mengias pemerintah Hindia-Belanda nan berjudul
Als ik eens nederlander Was
ataupun “Andai aku sendiri Belanda”. Isi tulisan Suwardi tersebut diantaranya:

… Sekiranya aku seorang Belanda, aku unjuk rasa peringatan yang akan diadakan itu. Aku akan peringatkan kawan-persekutuan dagang kolonialis, bahwa selayaknya dahulu berbahaya pron bila itu mengadakan perayaan peringatan independensi. Aku akan peringatkan semua bangsa Belanda, jangan menyinggung kultur nasion Indonesia yang baru siuman dan menjadi berani. Sungguh aku akan protes sehebat-hebatnya…[5]

Kemudian Tjipto Mangunkusumo juga menulis sebuah tulisan berjudul
Kracht of Vrees?
yang bermakna “Khasiat ataupun Kedahsyatan?”. Kesudahannya, mereka empat mata ditangkap oleh Belanda dan diasingkan. Kemudian Dekker memprotes penggerebekan kedua temannya dan menulis
Onze Helden: Tjipto Mangunkusumo en R.M. Suwardi Suryaningrat
(Pahlawan kita: Tjipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat).

Kegiatan komite yang diprakarsai maka itu tiga serangkai ini dianggap berbahaya oleh pemerintah sehingga berdasarkan pasal 48 R.R, Gubernur Jenderal Idenburg menjatuhkan hukuman pengasingan pada mereka. Awalnya 18 Agustus 1913 bui internal negeri dan kemudian diubah makara pengasingan luar kawasan puas 27 Agustus, ke Belanda.[2]
Dengan diasingkannya para penggerak Indische Partij, berakhirlah kiprah Indische Partij di Indonesia. Van Deventer mengibaratkan organisasi ini perumpamaan bayi nan gugur sebelum lahir. Artinya, Indische Partij belum dapat membuktikan kebesarannya di tengah-tengah organisasi pergerakan nasional karena pemerintah Hindia-Belanda sudah lalu membubarkannya.[5]

Pengasingan E.F.E. Douwes Dekker dicabut pada Agustus 1917, Suwardi Suryaningrat pada Juli 1918, dan dr. Tjipto Mangunkusumo pada Juli 1914. Setibanya di Hindia-Belanda, dr. Tjipto Mangunkusumo bergerak di bidang politik yang kemudian menjadi anggota PNI. Sedangkan Dekker dan Suwardi ambau ke satah pendidikan. Mereka tiap-tiap mendirikan sekolah “Ksatrian Instituut” dan sekolah Yojana Siswa yang berarti memperkuat tentara sekolah swasta nan telah dirintis makanya sekolah Muhammadiyah.[2]

Wacana

[sunting
|
sunting mata air]


  1. ^

    Departemen Pendidikan dan Peradaban (1977)
    Sedjarah Islam di Sumatera
    Yogyakarta : Direktorat Jenderal Kebudayaan. hal 55-56
  2. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j



    Pesanan Penelitian dan Pendataan Kebudayaan Negeri. (1977).
    Sejarah Kebangkitan Kewarganegaraan Daerah Jawa Timur. Jawa Timur: Direktorat Jenderal Kultur. Hal 57-65.
  3. ^


    a




    b




    c




    “Kabilah nasionalis kerumahtanggaan dunia pergerakan”
    (Pdf).
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
    . Diakses tanggal
    15 Februari
    2022
    .




  4. ^


    a




    b




    “Nasionalisme dan Gagasan Kebangsaan Indonesia Mulanya: Pemikiran Soewardi Suryaningrat, Tjiptomangoenkusumo dan Douwes Dekker 1912-1914”
    (Pdf).
    jurnal.ugm.ac.id
    . Diakses copot
    15 Februari
    2022
    .




  5. ^


    a




    b




    c



    Slamet Muljana (2007)
    Sejarah. Sumatera Barat: Yudhistira Ghalia Indonesia. Hal 37-38. ISBN 9790191391

  6. ^

    Slamet Muljana (2008) ‘’Kesadaran Kebangsaan ; Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan (Jilid 1)
    Yogyakarta: Lkis Pelangi Aksara. Hal 97-98. ISBN 9791283559

  7. ^


    “PERJUANGAN ERNEST FRANCOIS EUGENE DOUWES DEKKER Bermula Strategi MENUJU PENDIDIKAN 1913-1941”
    (Pdf).
    AVATARA, e-Journal Pendidikan Album
    . Diakses tanggal
    3 Maret
    2022
    .





  8. ^

    Kees Van Dijk (2020) ‘’‘’Hindia Belanda dan Perang Dunia 1, 1914 – 1918’’ Jakarta: Banana. ISBN 979107934X



Berikut Yang Tidak Terkait Dengan Organisasi Indische Partij Adalah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/National_Indische_Partij

Check Also

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat. Mas Pur Follow Seorang freelance nan suka membagikan pengetahuan, …