Jelaskan Perbedaan Antara Foto Udara Dan Citra Berikan Contohnya

Jelaskan Perbedaan Antara Foto Udara Dan Citra Berikan Contohnya.

Foto Udara dan Citra Satelit

DAPATKAN DATA CITRA SATELIT RESOLUSI Terlampau Tinggi
WORLDVIEW-3
BESERTA Perebusan DAN MAPPING DENGAN HARGA YANG KOMPETITIF DI
MAP
VISION
INDONESIA

Buat Keterangan Bertambah LANJUT DAPAT Mengabari KAMI Pada NOMOR TELEPON
(WA/SMS/TELEPON): 0878 2292 5861 | E-MAIL:
[email protected]

Foto udara adalah pengambilan foto di udara menggunakan media yang bisa bersirkulasi di awan.

Mulanya alat angkut yang digunakan n domestik memperoleh foto udara merupakan sebuah balon gegana dan kapal terbang, semata-mata seiring perkembangan teknologi, detik ini beragam wahana dapat digunakan cak bagi mendapatkan sebuah foto gegana. dimana yang saat ini marak digunakan yakni pengusahaan wahana positif
Unmanned Aerial Vehicles
(UAV) atau
drone.

Sangat penggunaan foto udara lebih banyak digunakan untuk kelebihan militer, dan mulai gaduh dipakai oleh kalangan sipil sesudah Perang Mayapada II selesai.


BACA Kembali
:

1).
Segala apa Itu Foto Gegana?

2).
Apa Itu Citra Satelit?

3).
Penginderaan Jauh

4).
Konotasi Citra Satelit

5).
Citra Penginderaan Jauh


Sejarah Awal Foto Udara


Gaspard-Felix Tournachon (dikenal juga dengan sebutan Nadar) seorang fotografer yang awalnya berprofesi sebagai novelis dan karikaturnis, merupakan orang pertama nan mengambil foto peledak memperalat wahana berupa balon udara, nan dilakukan pada tahun 1858.

Sahaja sayangnya foto udara pertama dan juga foto-foto gegana tak hasil pelanting Nadar sudah lalu tidak boleh ditemukan. Saat ini hasil tarbil awal foto udara yang masih dapat disaksikan adalah karya James Wallace Black dan Samuel Archer King yang berjudul: “Boston, as the Eagle and the Wild Goose See It” yang diambil pada tanggal 13 Oktober 1860 di atas ketinggian 630 meter dari Ii kabupaten Boston, Amerika Kawan.

Lebih lanjut pengutipan foto gegana menggunakan ki alat nan tidak terus berkembang, seperti penggunaan layang-layang nan dilakukan seorang meteorologis sumber akar Inggris bernama ED Archibald pada masa 1882. Pada tahun nan sama, Cecil Shadbolt, mengerjakan pengutipan foto awan dengan menggunakan sarana riil balon tabun.

Pada sungkap 24 April 1909, pemanfaatan media yang lebih berat dibandingkan udara digunakan purwa kalinya, dengan menyematkan kodak kerangka bergerak bakal kemustajaban pembuatan film tunawicara berdurasi pendek yang berjudul: “Wilbur Wright und seine Flugmaschine”.


Ki kenangan Penggunaan Foto Udara bikin Pemetaan

Veteran Perang Bumi I, Francis Wills dan Claude Graham White, mendirikan firma fotografi mega memikul pertama di Inggris lega tahun 1919 yang mereka pasrah logo Aerofilm, Ltd.

Firma tersebut pada tahun 1921, melakukan foto peledak vertikal untuk kepentingan angket dan pemetaan, serta selama tahun 1930-an, Aerofilm menjadi perusahaan pengambil inisiatif aji-aji fotogrametri (pemetaan berbunga foto udara).

Di negara kita, Indonesia, penggunaan foto peledak kerjakan angket pemetaan telah mulai dilakukan makanya bilang rancangan pada awal 1970-an (Danoedoro, 2012). Tetapi detik bangsa kita tengah tiba penggunaan foto mega kerjakan pemetaan, negara maju malah mulai mengembangkan bintang siarah sumber daya alam sebagai media untuk mendapatkan data penginderaan jauh.


Jenis Foto Peledak Beralaskan Tali api Kamera

Berdasarkan tingkat kemiringan tunam pemotret, foto peledak dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

  • Foto Udara Vertikal

Pada diversifikasi foto udara vertikal, posisi tunam kodak meleleh lurus (vertikal) atau maksimal sudut kemiringannya 3 derajat dengan area yang hendak dipotret.

Keberagaman Foto Gegana Vertikal

(Perigi Tulang beragangan:

bit.ly/3gq7J6t
)

Foto gegana macam ini banyak digunakan lakukan pemetaan karena nisbah dan korban yang dipotret mempunyai tulangtulangan cenderung teguh serta tidak menutup objek area lain dibandingkan keberagaman foto udara lain.

Acuan Tampilan Foto Awan Vertikal

(Mata air:

bit.ly/2CFPdbe
)

  • Foto Udara Miring Kurang
    (
    Low Oblique
    )

Tipe Foto Udara Miring Cacat

(Sumur Gambar:

bit.ly/3gq7J6t
)

Cak bagi jenis foto gegana miring rendah, sumbu kodak takhlik sudut kemiringan antara 3 derajat hingga 30 derajat dengan wilayah yang dipotret.

Contoh Tampilan Foto Mega Miring Rendah
(Kenampakan Horizon Pada Foto Ini Tidak Ditunjukkan)
(Sumber:

bit.ly/2CFPdbe
)

  • Foto Awan Miring Tataran
    (
    High Oblique
    )

Sumbu kamera pada jenis foto peledak miring tangga membuat tesmak kemiringan antara lebih dari 30 derajat sebatas 55 derajat dengan area nan dipotret.

Jenis Foto Udara Mengsol Tinggi

(Sumber Gambar:

bit.ly/3gq7J6t
)

Kelebihan jenis foto udara miring, baik yang miring rendah ataupun tinggi, dapat memotret wilayah dalam cakupan yang makin luas dibandingkan dengan jenis foto udara vertikal, namun kelemahannya skala dan ukuran objek yang dipotret tidak loyal, sehingga pengukuran format objek menjadi lebih sulit dibandingkan foto udara vertikal.

Contoh Tampilan Foto Gegana Serong Tinggi nan Menunjuk-nunjukkan Cakrawala

(Sumur:

bit.ly/2CFPdbe
)


Citra Bintang beredar

Lega ketika negara kita, Indonesia, di musim 1970-an mulai memanfaatkan foto udara untuk kegiatan survei-pemetaan sumber anak kunci, maka di negara-negara yang maju, mereka start mengembangkan satelit mata air kunci alam untuk mendapatkan data penginderaan jauh.

Baca :   Jelaskan Kiat Kiat Untuk Memulai Bisnis Manisan Pala

Hal ini berusul dari Acara Landsat yang suntuk legendaris di tahun 1972, nan setakat kini masih terus berjalan dan telah memasuki sinar ke 8 (Bintang siarah Landsat 8), bahkan pada masa 2021 mendatang, rencananya akan meluncur binar ke 9 (Satelit Landsat 9). Dan saat ini telah banyak sekali bintang beredar sumber daya pan-ji-panji selain Program Satelit Landsat nan paruh beroperasi di luar angkasa dengan beraneka macam spesifikasi nan dimilikinya. Satelit-satelit sumber resep alam tersebut menghasilkan citra satelit nan merupakan gambaran latar dunia dengan beragam resolusi spasial dan resolusi spektral.

Dan berikut ini beberapa contoh data citra satelit optis yang dihasilkan makanya satelit sumber daya bendera dengan sensor pasif (mata air tenaga berasal dari matahari):

1).
Citra Satelit WorldView-3

Citra Bintang beredar WorldView-3 Negeri Candi Borobudur

Jawa Tengah dalam Skala 1
:
1000

Citra satelit yang dihasilkan oleh Bintang beredar WorldView-3 yakni citra satelit dengan kenampakan paling detail ketika ini, dengan resolusi spasial mencapai 30 cm (0.3 m) pada keadaan nadir (bakal citra satelit lega
band
pankromatik).

Baca :   Dalam Pengelolaan Sumber Daya Usaha Kerajinan

Selain itu, Satelit WorldView-3 saat ini dapat dibilang sebagai satelit sumber kancing alam komersial minimal canggih bikin kategori satelit pelaksana citra dengan resolusi spasial tinggal tangga, karena selain dibekali 1
band
pankromatik dengan resolusi spasial 30 cm (pada posisi nadir) dan 8
band
multispektral dengan resolusi spasial 1.24 meter, pada bintang siarah ini sekali lagi terwalak 8
band
pada jangkauan elektromagnetik
Short Wave Infra Red
(SWIR), serta 12
band
multispektral bikin
Clouds,
Aerosols,
Vapors,
Ice, &
Snow
(CAVIS).

Keberadaan
band
SWIR pada Citra Satelit WorldView-3 bermanfaat bakal menghasilkan citra planet yang nonblok berpangkal beraneka ragam bujukan nan menahan tampilan objek pada citra satelit sebagaimana kabut,
haze, serta awan tipis. Selain dari hal tersebut, hadirnya
band
SWIR juga boleh bikin melihat titik api aktif yang terekam maka itu satelit.

Visible
&
SWIR
pada
Data Citra Satelit WorldView
3

Sementara itu lakukan sensor CAVIS yang terdiri berusul 12
band
bertujuan untuk menghasilkan citra bintang siarah dengan tampilan yang lebih ceria bermula awan, kabut, dan berbagai macam gangguan bukan di atmosferik, serta menampilkan warna yang selaras (seamless) antar data citra satelit yang mencakup sebuah provinsi.

CAVIS

2).
Citra Bintang siarah Pleiades1A
&
Pleiades1B

Data Olahan Citra Bintang beredar Pleiades1A
Warna Natural Daerah tingkat Cilegon

Banten Perimbangan 1
:
2.500

Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B merupakan satelit “kembar” terbit
vendor
Airbus Defence & Space. Disebut kembar karena spesifikasi planet separas persis dan setolok-ekuivalen menghasilkan citra bintang beredar dengan resolusi spasial kelas 50 cm (hasil
resampling) pada cak cakupan elektromagnetik kilauan terlihat (visible) dan inframerah intim (near infrared).

Baca :   Perhatikan Ayat Berikut Jelaskan Maksud Ayat Tersebut

Momen ini Citra Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B merupakan kompetitor terberat cak bagi citra satelit resolusi spasial lampau tinggi dari perusahaan Maxar Technologies.

3).
Citra Satelit SPOT6
&
SPOT7

Data Olahan Citra Satelit SPOT 6 Corak Natural Wilayah Kalimantan Barat Skala 1
:
7.500

Selain Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B, perusahaan Airbus Defence & Space pula memiliki bintang beredar kembar lain adalah Satelit SPOT-6 dan SPOT-7.

Untuk Bintang siarah SPOT-6 dan SPOT-7, kedua satelit tersebut menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial papan bawah 150 cm (1.5 m), pada spektrum elektromagnetik cahaya kelihatan (visible) dan inframerah dekat (near infrared).

Saat ini, Citra Planet SPOT-6 dan SPOT-7 banyak digunakan untuk berbagai aplikasi karena tingkat resolusi spasial nan tinggi dengan harga nan terjangkau cak bagi kawasan nan luas.

4).
Citra Bintang siarah KOMPSAT3A

Citra Satelit KOMPSAT3A wilayah Ferrari World,
Tepung Dhabi

Tanggal Perekaman 26 Oktober 2015

(Image Copyright:
KARI,
SIIS)

Negara Ginseng, Korea Selatan, ternyata memiliki planet sumur daya kalimantang nan menghasilkan citra satelit dengan resolusi sangat tinggi yakni Planet Korea Multi-Purpose Satellite (KOMPSAT). Keseleo satu sorot Satelit KOMPSAT yang masih beroperasi adalah Satelit KOMPSAT-3A yang menghasilkan citra dengan resolusi spasial kelas 40 cm (0.4 m), lega lingkup elektromagnetik cahaya terpandang (visible) dan inframerah dekat (near infrared).

Dan berikut sejumlah citra satelit enggak yang dihasilkan dari bintang beredar sumber kiat alam (silahkan klik pada tiap-tiap
link

kerjakan informasi lebih lanjut tercalit citra satelit tersebut):

  • Pleiades Neo
  • WorldView Legion
  • WorldView-4
  • GeoEye-1
  • Landsat 8


Kelebihan dan Kelemahan Foto Udara dan Citra Planet

Sebelumnya telah dibahas mengenai foto awan dan pun citra satelit okuler dengan sensor pasif. Silam apa fungsi dan kekurangan foto udara dibandingkan citra satelit?, berikut penjelasannya:

Saat ini, data citra satelit optis dengan pengawasan pasif yang mempunyai resolusi spasial tertinggi bakal kepentingan menggalas yakni Citra Satelit WorldView-3 dengan resolusi spasial mencapai 30 cm sreg posisi nadir, dan takdirnya enggak ada hambatan maka pada tahun 2020 ini akan mengorbit pula Planet Pleiades Neo nan akan menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 30 cm sreg posisi nadir, serta pada tahun 2021 mendatang akan mengangkasa Planet WorldView Legion nan akan menghadirkan citra dengan resolusi spasial 29 cm lega posisi nadir. Maka untuk kini dan beberapa hari mendatang citra satelit dengan resolusi spasial tertinggi yang dijual secara membahu kepada umum ialah 29 cm dan 30 cm.

Hal ini berbeda dengan foto udara yang dihasilkan olehdrone
alias UAV, dimana resolusi spasial yang dihasilkan bertambah tingkatan dibandingkan data citra satelit nan tersedia kini (bisa mencapai 1 cm). Resolusi spasial sebuah foto mega yang dihasilkan tersampir sensor kamera yang digunakan serta peletakan keagungan terbang
drone
tersebut.

Namun walau n kepunyaan tingkat resolusi spasial nan lebih adv minim dibandingkan data foto udara, data citra satelit mempunyai keunggulan dari sisi tingkat akurasinya bahkan tanpa penyertaan titik otoritas lapangan sekalipun (terutama untuk area yang datar), berhubung kini kebanyakan data citra bintang siarah komersial terutama nan termaktub intern kategori citra satelit resolusi sangat tinggi dan tataran telah dibekali data tutul kekuasaan bawaan dari pihak
vendor
nan bernama Rational Polynomial Coefficient (RPC). RPC merupakan data model titik supremsi nan terdiri terbit 20 titik, yang halal digunakan dalam proses orthorektifikasi data citra planet.

Selain itu, data citra bintang siarah mempunyai keunggulan dari sisi jumlah resolusi spektral. Detik ini, sebagian raksasa data citra satelit nan memiliki resolusi spasial tinggal panjang mempunyai 4
band
yang ikut internal spektrum elektromagnetik kirana tampak (visible) dan juga inframerah hampir (near infrared), beberapa bahkan mempunyai lebih dari 4
band
seperti mana Citra Satelit WorldView-2 yang terdiri dari 8
band
multispektral, dan juga Citra Bintang siarah WorldView-3 yang bukan namun n kepunyaan 1 band pankromatik dan 8
band
multispektral, akan tetapi sekali lagi memiliki 8
band
multispektral
Short Wave Infra Red
(SWIR) dan 12
band
Cloud,
Aerosol,
Vapors,
Ice, and
Snow
(CAVIS).

Untuk data citra satelit bukan terutama kebanyakan nan mempunyai resolusi spasial lebih sedikit, lebih-lebih memiliki tingkat resolusi spektral lebih tataran lagi. Bak cermin cak bagi data Citra Satelit Landsat 8 yang n kepunyaan resolusi spasial tertinggi 15 meter (band
pankromatik) terdiri pecah 11
band
nan mulai sejak dari 2 penapisan yang dimilikinya ataupun contoh lainnya seperti Citra Satelit Sentinel-2A nan mempunyai 13
band. Dan malar-malar beberapa citra bintang siarah memiliki ratusan
band
nan sudah lalu termasuk kategori citra bintang beredar
hyperspectral
seperi Citra Bintang siarah Hyperion.

Keberadaan total
band
yang banyak pada sebuah data citra satelit sangat berarti lakukan kajian lebih lanjur berpunca data citra satelit, seperti mana kehadiran
band thermal
pada Citra Satelit Landsat 8 signifikan bakal mengamalkan estimasi guru permukaan satu kewedanan, kemudian kehadiran
bandband
inframerah karib dan
band
cahaya tampak, boleh digunakan bakal mengetahui tingkat konsistensi vegetasi, tingkat kesegaran sebuah tumbuhan, dan lain sebagainya, melalui pengolahan
Normalized Difference Vegetation Index
(NDVI).

Selain itu, keunggulan foto udara yang dihasilkan oleh
drone
ketimbang citra satelit yakni tampilan foto udara yang bisa bebas awan karena penempatan ketinggian
drone
dapat diatur di bawah keberadaan awan lebat nan dapat menutupi mangsa di area pengabadian. Sedangkan data citra bintang siarah optis yang menggunakan sensor pasif akan sangat tergantung kondisi terang di area perekaman tersebut. Jika ketika bintang siarah melakukan perekaman di sebuah area yang ternyata terdapat awan tebal yang menutupi target-alamat yang terletak pada negeri perekaman, maka udara tebal tersebut akan turut terekam dan akan muncul plong citra satelit yang dihasilkan, sehingga membentangi korban dan mempersulit sendiri interpreter cak bagi melakukan intepretasi objek yang berada di area perekaman.

Sebenarnya terdapat juga data citra satelit dengan menunggangi pemeriksaan aktif (sumber tenaga berasal berusul pemeriksaan tersebut), salah satunya yaitu citra bintang siarah dengan menggunakan teknologi Radio Detection and Ranging (RADAR) nan mampu “menembus awan” dan menghasilkan citra nan bebas gegana. Akan tetapi eksploitasi citra RADAR lebih ditujukan untuk memperoleh data topografi dibandingkan bikin melihat berbagai rupa objek yang berada di permukaan bumi, karena tampilan incaran pada citra RADAR hasil perekaman berbeda tampilannya dengan citra planet visual dengan pengawasan pasif, dimana incaran bertambah sulit diidentifikasi plong citra RADAR.

Namun walau begitu, rintangan keikhlasan gegana sreg data citra bintang beredar okuler dengan sensor pasif dapat disiasati dengan proses pengolahan.

Untuk eksistensi awan tipis seperti kabut atau gas, boleh direduksi ataupun dihilangkan dengan pengolahan koreksi atmosferik, contohnya sebagaimana yang terlihat di pangkal ini:

Data Original Citra Satelit WorldView2
(Area Perekaman Tertutupi Asap)

Asap pada Data Citra Planet WorldView-2 Hasil Olahan Rona Natural
(
Haze Removal

Bersisa

Enhancement
)
Sudah Hilang

Ataupun bisa menggunakan
band

SWIR pada data citra satelit yang mempunyai
band
tersebut, ataupun penggunaan
band
SWIR & CAVIS pada Citra Planet WorldView-3, sahaja dengan tingkat resolusi spasial yang lebih minus dibandingkan dengan Citra Satelit WorldView-3 puas
bandband
binar tampak (visible) dan juga inframerah erat (near infrared).

Tampilan Data Citra Bintang beredar WorldView3 Warna Natural
(Spektrum

Visible
/Cerah Kelihatan)
(C)
Maxar Technologies

Tampilan Data Citra Satelit WorldView-3 Menggunakan Aliansi Band SWIR

(C)
Maxar Technologies

Tampilan Data Citra Satelit WorldView3 Sangkut-paut Band SWIR Lega Kawasan Nan Terbakar

(C)
Maxar Technologies

Tampilan Data Citra Bintang siarah WorldView-3 Pada Band Ke 8 SWIR
(Hampir Netral Asap)
(C)
Maxar Technologies

Tampilan Data Citra Planet WorldView-3 Menggunakan Band SWIR,
Dimana Tingkat Area yang Hangus Dapat Terpandang Jelas


(C)
Maxar Technologies

Lakukan lebih lengkapnya, Sira boleh membaca postingan berikut ini:
Mengaram yang Lain Tertentang Menggunakan SWIR

Padahal cak bagi keberadaan awan tebal pada data citra bintang siarah, bisa disiasati dengan proses yang diberi nama
cloud remove.
Cloud remove
merupakan istilah untuk menggantikan tampilan awan di sebuah lokasi yang berbenda pada sebuah data citra bintang siarah dengan data citra satelit lain yang kondisinya tak terdapat keberadaan gegana di lokasi tersebut. Bagi melampiaskan kognisi mengenai
cloud remove, Anda dapat melihatnya plong sejumlah contoh di bawah ini:

Mendinginkan Awan Pada Data Citra Satelit

Sebelum dan Sesudah Proses

Cloud Remove

&

Colour Balancing

Data Original Citra Satelit WorldView1
&
WorldView2
Wilayah Merangin

Jambi

Data Citra Satelit WorldView1
&
WorldView2
Hasil Olahan
(Orthorektifikasi
+

Cloud Remove

+

Mosaick

+

Enhance
)
Wilayah Merangin

Jambi

Idealnya data citra satelit yang digunakan sebagai data pengganti mempunyai tanggal perekaman serta tingkat resolusi spasial yang seperti data citra satelit yang keberadaan awannya hendak dihilangkan.

Kalaupun ternyata data penggantinya enggak tersedia sesuai dengan kondisi ideal tersebut, maka hendaknya tanggal perekaman serta tingkat resolusi spasialnya tidak berbeda jauh atau jomplang  dengan data citra satelit yang akan digantikan, sehingga nantinya kondisi eksploitasi lahan puas area perekaman masih sesuai dengan kondisi yang terekam pada data citra planet utama.

Untuk kelemahan dari data foto udara yakni secara rata-rata biaya perekaman untuk mendapatkan data foto peledak lebih tinggi dibandingkan data citra satelit.

Sekiranya menggunakan kapal udara untuk melakukan perekaman, dan kita bukan mempunyai wahana tersebut, maka kita harus mengeluarkan biaya buat sewa pesawat terbang plus biaya bikin aviator, dan pembiayaan lainnya.  Selain itu kita harus menggapil perizinan untuk mengambil pemotretan di area opname serta mematuhi berbagai macam rasam ketika melakukan penjepretan.

Citra Penginderaan Jauh

Jika menunggangi wahana seperti
drone
yang dilakukan oleh kita koteng yang posisinya jauh semenjak lokasi kita berlimpah, maka selain pengurusan perizinan beserta aturan yang harus dipatuhi momen mengamalkan pemotretan, kita kembali harus mengeluarkan biaya fasilitas serta berbagai biaya lain yang tidak terduga selama di lapangan.

Selain itu, pemungutan foto udara menunggangi wahana dengan bobot yang ringan semisal
drone, faktor cuaca juga sangat berkarisma. Kepantasan kilangangin kincir yang sesak kencang di area pemotretan, akan membuat pergerakan
drone
menjadi tidak stabil, sehingga foto hasil perekaman menjadi kurang baik.

Kecepatan pengemasan data foto peledak pula lebih lambat dibandingkan data citra bintang siarah, karena harus melakukan pengurusan perizinan di area pengambilan gambar, periode yang diperlukan lakukan berangkat ke lokasi pemotretan, memastikan justru dahulu kondisi cuaca puas area pemotretan sudah lalu ideal, serta resiko kegagalan pengabadian karena
drone

mengalami kerusakan ketika melakukan pemotretan, yang mewujudkan proses pemotretan diundur.

Sedangkan data original citra satelit yang sudah tersedia puas
database, masa ini dapat diterima dalam hitungan tahun bahkan jam, sonder harus berbuat pengurusan perizinan dan pergi ke lokasi perekaman. Anda memadai duduk manis di kondominium atau kantor Anda, maka dalam waktu yang tak lama data original citra bintang beredar sudah lalu bisa dapat Anda sambut.

Selain itu, kerjakan kawasan nan pas luas, penggarapan data foto udara memakan masa yang patut lama terutama kerjakan proses
ortho mosaick
(penyimpulan data-data foto udara hasil pengambilan gambar untuk mendapatkan tampilan utuh area pemotretan), karena akan terdiri terbit banyak data foto peledak berhubung dalam satu pengambilan gambar, luasan daerah yang terportret tidaklah luas.

Berbeda dengan hasil perekaman planet sumur daya pataka nan bisa mencakup kawasan dalam sekali perekaman berkisar ratusan hingga ribuan kilometer persegi, sehingga total
scene/tile
(format yang digunakan dalam sekali perekaman sebuah satelit) data citra satelit yang mencengam kawasan nan luas jauh lebih abnormal dibandingkan dengan data foto udara.

Sebagai halnya komputer yang digunakan bakal penggodokan data foto mega memerlukan perincisan yang lebih tingkatan dibandingkan bakal perebusan data citra satelit, berhubung semacam itu banyak data foto udara yang harus dikerjakan menjadi suatu keesaan dengan ukuran file yang besar.


Kesimpulan

Telah diterangkan mengenai foto gegana dan citra satelit, juga fungsi dan kekurangannya. Anda yang memerlukan data penginderaan jauh, bisa memintal apakah data citra satelit atau foto udara yang sesuai dengan perincisan yang diinginkan beserta
budget
yang dimiliki.

***

Semoga postingan ini bermanfaat, dan sampai jumpa pada postingan kami berikutnya. Insya Halikuljabbar.


POSTINGAN Menyentak LAINNYA
:

1). [Tutorial] Pendirian
Download
Peta RBI Prodeo

2). [Kursus] Download Data DEM SRTM Kontan di QGIS

3). [Cak bimbingan] Mengerti Temperatur Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS Memperalat QGIS

4). [Cak bimbingan]
Download
Data OSM di QGIS 3.4

5). [Kursus] Melakukan Georeferensi di QGIS

Jelaskan Perbedaan Antara Foto Udara Dan Citra Berikan Contohnya

Source: https://citrasatelit.wordpress.com/2020/08/09/foto-udara-dan-citra-satelit/

Check Also

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat. Mas Pur Follow Seorang freelance nan suka membagikan pengetahuan, …