Peristiwa Bandung Lautan Api Terjadi Karena

Peristiwa Bandung Lautan Api Terjadi Karena

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bandung Lautan Api
Bagian dari Revolusi Nasional Indonesia


Bagian selatan Bandung dibakar oleh TRI
Tanggal 23 Maret-24 Maret 1946
Lokasi Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Hasil TRI mundur dari Bandung
Pihak terlibat
Flag of Indonesia (physical version).svg
Republik Indonesia
Sekutu:


Kekaisaran Britania



  • Britania Raya

  • India


Imperium Belanda


  • Kerajaan Belanda

  • Hindia Belanda

  • Belanda

    Pemerintahan Sipil Hindia Belanda
Tokoh dan pemimpin

Flag of Indonesia (physical version).svg
MayJen. Abdoel Haris Nasoetion(Komandan Divisi III TRI)
Flag of Indonesia (physical version).svg
Komandan Muhammad Toha



Flag of Indonesia (physical version).svg
Komandan Muhammad Ramdan

.

(Toha dan Ramdan tewas saat misi meledak gudang amunisi di Dayeuh Kolot (23 Maret 1946))


Britania Raya

Brig.MacDonald
Pasukan

Indonesia

Tentara Republik Indonesia (TNI)
MinistryofDefence.svg
Angkatan Bersenjata Britania Raya

  • British Army crest.svg
    Angkatan Darat Britania Raya

Royal Netherlands East Indies Army Coat of Arms Tentara Kerajaan Hindia Belanda Lambang Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger Wapenschil Logo KNIL.jpg
Tentara Kerajaan Hindia Belanda

Peristiwa Bandung Lautan Api
adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar kediaman mereka sendiri dalam peristiwa tersebut
[1], kemudian meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu yang dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR (Tentara Keamanan Rakyat), diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) tidak dapat dihindari. Malam tanggal 21 November 1945, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi “bumi hangus”. Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumi-hanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946.[2]
Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.[3]
Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 12 Malam, Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Namun, api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.

Pembumi-hangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini menginspirasi Ismail Marzuki beserta para pejuang Indonesia saat itu untuk mengubah dua baris terakhir dari lirik lagu Halo, Halo Bandung menjadi lebih patriotis dan membakar semangat perjuangan. Beberapa tahun kemudian, lagu Halo, Halo Bandung menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.

Istilah
Bandung Lautan Api
menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumi-hangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di
Regentsweg
(sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.

“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air.”-A.H Nasution, 1 Mei 1997

Istilah
Bandung Lautan Api
muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api“. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api“.
[butuh rujukan]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Halo, Halo Bandung
  • Muhammad Toha
  • Bandung

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    http://nationalgeographic.co.id/
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



  2. ^


    “Bandung Lautan Api | Web Sejarah”. 14 Februari 2014. Diakses tanggal
    26 Maret
    2022
    .





  3. ^


    “BLA, A.H. Nasution, dan Ujungberung”.
    Humas.Bandung.go.id. 22 Maret 2022. Diakses tanggal
    26 Maret
    2022
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


4. sejarah Bandung Lautan Api versi website resmi pemerintahan kota Bandung.



Peristiwa Bandung Lautan Api Terjadi Karena

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Bandung_Lautan_Api

Baca :   Tiga Suku Berikutnya Dari Barisan 1 5 11 19 Adalah

Check Also

Contoh Soal Fungsi Produksi Dan Jawaban

Contoh Soal Fungsi Produksi Dan Jawaban Fungsi Produksi – Pada perjumpaan kali ini dimana akan …