Sebuah Mesin Di Suatu Pabrik Minuman Mampu

Sebuah Mesin Di Suatu Pabrik Minuman Mampu

Pantai timur Sumatera berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dalam jalur pelayaran dan perdagangan di masa lampau ketika dunia pelayaran masih bergantung pada sistem angin muson yang berubah-ubah arah tujuannya setiap enam bulan. Di kawasan ini lalu lintas dari segala arah bertemu untuk menantikan angin yang cocok agar bisa melanjutkan perjalanannya. Tidaklah mengherankan jika pantai ini dianggap sebagai “pantai niaga yang disenangi” (the favoured commercial coast) di kawasan barat Indonesia, sebagaimana telah diuraikan secara panjang lebar oleh O. W. Wolters dalam karyanya tentang masa sebelum Sriwijaya.

Kedudukan Jambi dalam hal ini tidak kalah dari tetangganya Palembang, Indragiri, Tungkal, Riau,dsb. Yang juga memanfaatkan posisi yang menguntungkan itu. Jadi disamping lokasi geografis yang menguntungkan, ada faktor-faktor lain yang ikut memainkan peranan sehingga yang satu ternyata lebih menonjol dari yang lain, sebagaimana telah dibuktikan oleh jalannya sejarah kawasan ini.

Dalam sistem kelautan seperti yang pernah kami kemukakan pada kesempatan lain, kawasan pantai Sumatera ini merupakan bagian dari kesatruan wilayah perairan yang meliputi laut Cina Selatan dan Selat Malaka, khususnya yang dibatasi oleh pantai timur Sumatera dan pantai Kalimantan Barat, jadi yang mencakup pula alur-alur pelayaran di sela-sela kepulauan Riau dan Lingga serta pulau Bangka dan Belitung. Perairan ini berperan sebagai penghubung antara “negeri di atas angin” (yakni sub-benua India di sebelah barat-laut, Persia dan negeri Arab), pulau Jawa dan pulau-pulau nusantara lainnya disebelah timur (“negeri di bawah angin”), dan Mungthai, Vietnam serta Asia Timur di sebelah utara. Oleh sebab itu sejak dahulu kala penguasaan perairan tersebut merupakan tujuan utama dari setiap kekuatan politik yang muncul di sini dari masa ke masa.

Kesatuan wilayah ini terbentuk oleh peleburan sekian banyak satuan perairan yang terdapat di sini berupa teluk, selat dan muara sungai – suatu kesatuan yang mula-mula bersifat ekonomis, namun bisa berkembang menjadi kesatuan politik bilamana sewaktu-waktu muncul suatu kekuatan laut yang lebih unggul dari satuan-satuan lainnya. Dalam hal ini teori yang pernah diajukan oleh Mahan bisa diterapkan dalam upaya membuat rekonstruksi,

Perkembangan sejarah bahari di kawasan ini. Menurut teori tersebut ada enam unsur yang menentukan dapat-tidaknya sebuah negara berkembang menjadi kekuatan laut : (1) letak geografi, (2) bentuk tanah dan pantainya, (3) luas wilayah, (4) jumlah penduduk, (5) karakter penduduk, dan (6) sifat pemerintahannya beserta lembaga-lembaga pendukungnya.

Dengan demikian kawasan pantai timur Sumatera telah memenuhi persyaratan pertama dan kedua, yakni lokasi geografi yang menguntungkan dan bentuk tanah dan pantainya yang memadai sehingga memungkinkan adanya pelabuhan yang baik. Di samping itu luas wilayah merupakan faktor yang penting pula, namun bukan hanya luas seluruh negara semata-mata, melainkan panjangnya garis pantai yang dapat dimanfaatkan untuk berhubungan dengan laut. Jadi dapat dipahami kelemhan dari kerajaan-kerajaan sungai di masa lampau jika hanya bisa mengandalkan aliran sebuah sungai saja.

Wilayah yang luas tanpa penduduk yang memadai tak akan benyak artinya bagi kerajaan bersangkutan. Bila dalam negara agraris masa lalu sistem lungguh merupakan sendi utama untuk kelangsungan hidupnya dimana unsur tenaga manusia sangat penting di samping unsur areal tanah, maka bagi kerajaan maritim yang mutlak diperlukan adalah “penguasaan” penduduk yang mampu memanfaatkan wilayah laut sebagai sumber nafkah. Jadi jumlah penduduk saja tidak cukup untuk membangun kekuatan maritim: yang lebih penting lagi adalah jumlah penduduk yang berorientasi ke laut, dan dalam hal ini suku laut yang menghuni kawasan muara sungai dan pulau-pulau lepas pantai memegang peranan utama.



Kata “penguasaan” sengaja ditulis dalam tanda kutip, karena yang terjadi sesungguhnya adalah jalinan hubungan yang serasi antara suku laut itu dengan penguasa – suatu hubungan yang didasarkan atas kesadaran saling ketergantungan, karena penguasa memerlukan kerjasama suku laut untuk menguasai wilayah perairannya, sedangkan rakyat laut ini membutuhkan perlindungan sang penguasa. Sehubungan dengan kenyataan ini maka ada ketergantungan timbal balik antara simpang dengan Jambi seperti halnya pula antara Singsang dengan Palembang. Sumber sejarah yang mwemberitakan adanya sarang bajak laut di muara sungai
mencerminkan suatu keretakan dlam hubungan antara orang laut ini dengan penguasa pustnya. Lagi pula sifat mobil pada kelompok bahari ini yang mudah berpindah-pindah dalam rumah perahunya memungkinkan mereka melepaskan ikatannya dengan penguasa yang tidak disenanginya dan mengalihkan hubungan kerjasama dengan penguasa (saingan) lain yang bisa memberi perlindungan yang lebih baik kepadanya. Pasang surut keramaian suatu bandar pelabuhan di wilyah ini ditentukan pula oleh erat-renggangnya antara penguasa setempat dengan rakyat baharinya.

Baca :   Reaksi Berikut Yang Termasuk Reaksi Reduksi Adalah

Bagi sebuah kerajaan sungai juga diperlukan hubungan yang baik dengan penduduk di daerah pedalaman. Sifat dari poros ulu ilir ini sejak dahulu senantiasa mewarnai pamor sutu kerajan yang mengandalkan hidupnya pada lalulintas sungai. Oleh sebab itu dalam hal Palembang hubungan dengan masyrakat Komering, Renjang, Pasemah, dsb. Sangat relevan, sedangkan bagi Jambi kerjasama
dalam masyarakat Kerinci
serta nagari-nagari Minangkabau di pedalaman mempengaruhi kebesaran pusat kerajaan.terlebih pada masa awal proses ulu-ilir sangat penting, karena pada waktu itu di pulau Sumatera gerak horizontal (barat-timur dan sebaliknya) lebih dulu berkembang daripada gerak utara-selatan.

Namun berbeda dengan suatu wilayah kontinental, hinteriand di sebuah pulau seperti di Sumatera adalah sangat terbatas. Di sebuah pulau, makin jauh kita ke pedalaman makin dekat pula kita menuju ke pantai sebelahnya. Memang istilah hinterland merupakan suatu pengertian kontinental (Jerman) sehingga tidak ada kata padananya dalam bahasa Inggris yang berkebudayaan maritim. Dalam hal masyarakat di pedalaman Jambi dan Palembang pemerintah di pusat kerajaan harus pandai menjalin hubungan yang baik, karena bila hubungan ini memburuk masyarakat bersangkutan mempunyai alternatif untuk mengadakan hubungan dengan pantai barat, suatu hal yang sering terjadi, terutama setelah pelayaran dan perdagangan di sepanjang pantai barat menjadi lebih ramai sesudah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511.

Sebaliknya, bagi suatu bandar di pulau kecilseperti Bintan, Lingga, atau Temasik, soal hinterland tidak begitu relevan. Yang lebih penting dalam hal ini adalah pemeliharaan hubungan maritim yang mapan dengan daerah seberang lautan yamg seolah-olah berperan sebagai daerah “pedalaman”nya. Dengan kata lain dalam hal ini kebijaksanaan politik pelayaran dan perdagangan adalah sangat menentukan bagi negara bersangkutan. Kebijaksanaan demikian diterapkan pada negara maritim atau thalassocracy masa lampau, seperti di Yunani kuno dan Vanezia, dan juga sedikit banyak dilakukan oleh Singapura di masakini.

Kerajaan pada masa pra-Sriwijaya seperti Ge-ying dan Gan-tuo-li telah memanfaatkan lokasi yang menguntungkan ini dan merupakan bandar pelabuhan bagi pelayaran dan perdagangan masa awal. Para pakar memperkirakan bahwa lokasinya harus dicari di pantai timur Sumatera, walaupun belum dapat dipastikan dengan tepat apakah letaknya di Jambi atau di Palembang. Lain halnya dengan shi-li-fo-shi dan Mo-luo-you yang diberitakan oleh yi-jing pada abad VII yang masing-masing diidentifikasikan oleh para pakar sebagai Sriwijaya dan Melayu dan ditempatkan di Palembang dan Jambi. Dari berita Yi-jing itu diketahui bahwa Mo-luo-you telah menjadi Shi- li-fo-shi, dengan kata lain, Jambi telah masuk Sriwijaya walaupun ibukotanya masih berada di Palembang.namun diperkirakan pula bahwa pusat kerajaan Sriwijaya dapat berpindah-pindah sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat tertentu. Misalnya,pada paro kedua dari abad XI para pakar memperkirakan bahwa ibukota Sriwijaya telah bertempat di Jambi.

Apabila pada masa awal (sebelum abad IV Masehi) berita-berita Cina mengenai kawasan ini masih sangat langka, sesudah abad V keterangan mengenai daerah Asia Tenggara, khususnya tentang wilayah sekitarselat Malaka, mulai meningkat dan menunjukan bahwa berita tersebut berasal dari pengunjungnya sendiri (sebelumnya berita yang diperolehnya berasal dari sumber sekunder). Ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia barat-jadi kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur sutera -, kini pengunjung asing itu sengaja berlayar kesini untuk berdagang, yakni mempertukarkan barang impor (kain sutera dan keramik dari Cina, tekstil dari India, dsb). Dengan hasil kepulauan Indonesia berupa rempah-rempah, kayu wangi, dll. Dengan kata lain jalur sutera relah melebur dengan jalur rempah-rempah.

Baca :   Contoh Soal Dan Jawaban Sejarah Peminatan Kelas 11 Semester 1

Berita Yi-jing dari abad VII menyebut pula nama-nama tempat lain di nusantara yang menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang kepulauan Indonesia telah meluas sampai kekawasan timur. Ada beberapa tempat yang disebut di samping Sriwijaya dan melayu, misalnya Po-lu-shi (barus), He-ling dan Dan-dan yang bersama Po-li berada di pulau jawa (ada pakar yang menempatkan Po-li di Bali), dan Fo-shi-bu-luo (Wijayapura) yang diperkirakan berada di Kalimantan Barat. Luo-cha dikatakan berada disebelah timur Po-li, akan tetapi kunjungan para pedagang dan pelaut Cina rupanya tidak menjangkau sampai ke daerah ini. Sehubungan dengan nama Fo-shi-bu-luo atau wijayapura (Kalimantan Barat) dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan ini agaknya telah masuk dalam orbit Shi-li-fo-shi atau Sriwijaya sebagaimana terpantui dalam kemiripan namanya.

Selama kira-kira ampat abad kawasan ini dikuasai oleh kedatuan Sriwijaya, akan tetapi sejak abad XI dominasinya atas pelayaran disini mulai mendapat tantangan dari beberapa kekuatan tandingan. Di sebelah timur telah muncul kekuatan baru di bawah Airlangga, sedangkan di sebelah barat ada tantangan dari kerajaan Cola di India selatan. Sekitar 1024-1025 armad Cola menyerang Sriwijaya. Masa kekacauan yang terjadi sesudahnya, memunculkan berbagai kekuatan baru di kawasan ini.

Rupanya kekuatan Sriwijaya yang tadinya berpusat di Palembang, kini beralih ke Jambi, namun kedudukannya sebagai kekuatan tunggal tidak lagi dapat dipulihkan seperti sediakala, malahan dibeberapa tempat mulai muncul kekuatan baru yang makin mandiri sehingga makin melemahkan kekuatan pusatnya. Pada abad XIII wilayah jambi nampaknya berada dibawah pengaruh Kertanegara, raja Singasari di Jawa Timur. Di samping itu ada indikasi bahwa kekuatan thai pun mulai terlibat dalam pertarungan hegemoni perairan ini.. sementara itu di bagian utara wilayah Selat Malaka kerajaan Pasai sedang berkembang sebagai pusat kebudayaan Islam pertama di Nusantara yang disertai pula dengan pertumbuhan bandarnya sebagai pusat perdagangan, sedangkan dibagian selatan di Temasik telah muncul kekuatan baru yang bernama Singapura. Kekuatan ini menganggap dirinya keturunan raja-raja Bukit Seguntang (Palembang), dengan kata lain, ia mempunyai klaim pula meneruskan tradisi Sriwijaya.


Sebagaimana diketahui, akhirnya kerajan Malaka berjaya dalam pertarungan kekuasan di perairan ini dan mendominasi pelayaran dan perdagangan di kawsan tersebut. Pasai, Aru, Siak dan kerajaan lain dikawasan selat ikut mengambil bagian dalam pelayaran dan perdagangan yang di kuasai Malaka itu, sedangkan Jambi dan Palembang telah masuk dalam wilayah pengaruh kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Keadaan ini berubah ketika pada abad XVI kapal-kapal Portugis memasuki wilayah ini, terutama sesudah tahun 1511 dengan jatuhnya bandar Malaka ketangan Portugis. Walaupun pimpinan kerajaan Malaka berhasil lolos dari kekuasaan Portugis dan melanjutkan pemerintahannya dari pusatnya yang baru di Johor dan kepulauan Riau, kepemimpinan tunggal atas negeri-negeri di kawasan selat telah hilang dan masing-masing kekuatan melayu tumbuh menjadi satuan-satuan politik yang mandiri. Seperti yang dikatakan oleh Pires(1515), “Aru melawan Malaka, Aceh melawan Pidie, Pidie melawan Kedah dan Siam, Pahang melawan Siam di (pantai) sebelah, Palembang melawan
Lingga, orang selat melawan bajau, dan jarang mereka bersahabat”.

Baca :   Apa Yang Dimaksud Dengan Offside Dalam Sepak Bola

Diantara nama tempat di pantai timur Sumatera yang disebut oleh Tome Pires dalam Suma Oriental (1515) kita temukan pula nama Jambi. Namun pada waktu itu, menurut sumber Portugis ini, kerajaan Sumatera yang paling penting adalah Aru yang terletak lebih ke utara, di sekitar Deli sekarang. Mengenai Jambi dikatakan sebagai berikut :

The land of Jambi is attached at one end the land of Tongkal and at the other side to the land of Palembang, inland to Minangkabau, and oppesite are the islands of pulo Berhala. This coumtry used to have a king. It is like Indragiri, and after the Javanese Moors began to grow powerful and took Palembang, they took Jambi, and they were called kings no longer, but they are called pates, which means mandarins in Malaca, and in our language really (means) governors with capital powers, both civil and criminal over every person in their lands. They have full jurisdiction, only they have lost the name of kings, and have become pates… the said land of Jambi produces apothecary’s lignaloes, and gold, and the merchandise of Tongkal and the other places. And there are already mpore foodstuffs here. It is under pate Rodim, lord of Demak. The people of the land of Jambi are already more like Palembangs and javanese than Malays. The land is fertile and rich in its way.

Walaupun (menurut Tome Pires) setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis kerajaan Aru dapat menguasai dunia pelayaran dan perdagangan di kawasan selat, namun hegemoni tersebut hanya berlangsung beberapa dekade, karena pada akhir abad XVI dan awal abad XVII Aceh telah muncul sebagai kekuatan besar dan mengantikan Pasai dan Pidie sebagai pusat perdagangan dibagian utara. Sementara itu dikawasan selat bagian selatan perdagangan semakin terpusat di Jambi. Akan tetapi kerajaan Johor sebagai pewaris Malaka semakin berhasil memantapkan kedudukannya di bagian selatan semenanjung Melayu, sehingga lambat laun antara Jambi dan Johor timbul pertarungan yang berlarut-larut untuk menguasai dunia perdagangan dan pelayaran di kawasan ini. Hampir seluruh abad XVII ditandai oleh peperangan antara kedua kerajaan ini. Pada tahun 1673 Jambi berhasil menghancurkan Johor, akan tetapi Johor dapat mengadakan tindakan balasan sehingga pada tahun 1679 adalah giliran Jambi untuk dikalahkan.

Di abad XVII ini telah muncul pula suatu kekuatan baru yang kemudian akan memegang peranan yang penting di kawasan ini. VOC (kompeni dagang Belanda) pada tahun 1602 mulai mengadakan hubungan dengan Jambi pada tahun 1615 dan lambat laun Belanda dapat memanfaatkan persaingan/permusuhan antara kerajaan-kerajaan pribumi di kawasan ini untuk kepentingannya sendiri. Suatu serangan bersama dari pihak Johor dan Palembang terhadap Jambi dapat dicegah dengan bantuan VOC, sehingga sejak itu Belanda semakin banyak mendominasi pelayaran dan perdagangandi sini. Pada abad XVIII hanya kekuatan maritim Bugis yang dapat meanandingi VOC. Sebuah nota VOC dari 1670 mencatat bahwa perdagangan dari Sulawesi Selatan tersebut telah sering berlayar ke Jambi untuk membawa kayu cendana dan budak dari wilayah bagian timur, sebaliknya mereka mengimpor dari Jambi berbagai macam kain (yang dibawa oleh pedagang dari India) dan emas. Jelaslah bahwa pada waktu itu dunia pelayaran dan perdagangan dikawasan ini telah berada ditangan pelaut dan pedagang dari luar kawasan.


Sebuah Mesin Di Suatu Pabrik Minuman Mampu

Source: https://sejarah-jambi.blogspot.com/2008/12/jambi-dalam-jaringan-pelayaran-dan.html

Check Also

Contoh Soal Fungsi Produksi Dan Jawaban

Contoh Soal Fungsi Produksi Dan Jawaban Fungsi Produksi – Pada perjumpaan kali ini dimana akan …