Suku Yang Ada Di Bali Dan Nusa Tenggara

Suku Yang Ada Di Bali Dan Nusa Tenggara.

Pecah Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia independen

Tungkai Bali


ᬳᬦᬓ᭄‌ᬩᬮᬶ
(Momongan Bali)


Pakaian rasam ijab nikah orang Bali.

Kawasan dengan populasi signifikan

Indonesia
3.946.416
[1]
Bali 3.336.065
Nusa Tenggara Barat 119.407
Sulawesi Tengah 115.812
Lampung 104.810
Sulawesi Tenggara 49.411
Sumatra Selatan 38.552
Sulawesi Kidul 27.330
Jawa Barat 20.832
Jawa Timur 20.363
DKI Jakarta 15.181
Sulawesi Barat 14.657
Sulawesi Utara 14.347
Kalimantan Selatan 11.999
Bahasa
Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia
Agama
Mayoritas: Hindu Bali
Minoritas: Islam, Serani (Protestan & Katolik), dan Buddha
Etnis terkait
Kaki Tengger, Suku Osing, Suku Sasak/Lombok, Suku Sumbawa

Kaki Bali
(bahasa Bali:
ᬳᬦᬓ᭄‌ᬩᬮᬶ,

translit.




anak Bali


,
wong Bali, ataupun
krama Bali) adalah suku bangsa mayoritas di pulau Bali, yang menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Menurut hasil Cacah jiwa Indonesia 2010, suka-suka cacat lebih 3,9 juta bani adam Bali di Indonesia.[1]
Sekitar 3,3 juta orang Bali tinggal di Provinsi Bali dan sisanya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Lampung, Bengkulu dan distrik penempatan transmigrasi asal Bali lainnya.[1]

Asal usul

Dasar usul suku Bali terbagi ke intern tiga periode alias gelombang listrik migrasi:

  1. Gelombang pertama terjadi sebagai akibat peredaran penduduk yang terjadi di Nusantara selama zaman prasejarah;
  2. Gelombang listrik kedua terjadi secara perlahan selama masa jalan agama Hindu di Nusantara;
  3. Gelombang listrik ketiga ialah gelombang ragil nan bermula bersumber Jawa, ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15—seiring dengan Islamisasi yang terjadi di Jawa—beberapa rakyat Majapahit memintal untuk melestarikan kebudayaannya di Bali, sehingga membentuk sinkretisme antara tamadun Jawa klasik dengan tradisi nirmala Bali.

Kebudayaan

Kebudayaan Bali tersohor akan seni tari, seni pertujukan, dan seni ukir. Miguel Covarrubias mencacat bahwa setiap orang Bali pas disebut sebagai seniman, sebab ada berbagai aktivitas seni yang dapat mereka lakukan—rontok mulai sejak kesibukannya laksana pembajak, pendatang, buruh kasar, sopir, dan sebagainya—menginjak dari menari, bermain irama, melukis, memahat, menyanyi, setakat dolan lakon. Intern suatu desa yang bobrok sekalipun dapat dijumpai sebuah pura nan indah, pemain beleganjur mustakim, dan bahkan aktor berbakat.[2]
Malah sesajen yang dibuat wanita Bali memiliki sisi artistik pada jalinan rincihan daun kelapa dan koneksi buah-buahan yang rapi dan menjulang.[3]
Menurut Covarrubias, seniman Bali adalah perajin amatir, nan melakukan aktivitas seni sebagai wujud persembahan, dan tidak peduli apakah namanya akan dikenang atau tidak.[4]
Artis Bali juga adalah peniru yang baik, sehingga suka-suka kantung yang didekorasi dengan ukiran menyerupai dewa khas Tionghoa, atau dihiasi relief kendaraan bermotor, yang mereka model berbunga majalah asing.[5]

Baca :   Garam Yang Mengalami Hidrolisis Sebagian Dan Bersifat Basa Adalah

Gamelan ialah kerangka seni irama yang vital dalam bineka acara tradisional masyarakat Bali. Setiap jenis irama disesuaikan dengan acaranya. Musik bakal
piodalan
(hari jadi) berbeda dengan musik pemandu acara
metatah
(mengasah gigi), demikian pun pernikahan, ngaben, melasti, dan sebagainya.[6]
Klonengan yang bineka pun disesuaikan dengan bervariasi jenis tari yang ada di Bali. Menurut Spies, seni tari takhlik utuh kehidupan publik Bali sekaligus menjadi elemen penting dalam serangkaian upacara adat maupun pribadi yang tidak ada habisnya.[7]

Sebagaimana di Jawa, suku Bali lagi mengenal pertunjukan n komedi didong, sahaja dengan bentuk wayang yang lebih menyerupai manusia daripada wayang khas Jawa. Suku Bali sekali lagi memiliki aspek-aspek distingtif yang terkait dengan leluri religius mereka. Kehidupan religius mereka merupakan sinkretisme antara agama Hindu-Buddha dengan tradisi Bali.

Kepercayaan

Kegiatan persembahyangan Hindu Bali di satu desa di Sulawesi Tengah.

Sebagian ki akbar suku Bali beragama Hindu. Sebanyak 3,2 miliun umat Hindu Indonesia tinggal di Bali,[1]
dan sebagian raksasa menganut kepercayaan Hindu aliran Siwa-Buddha, sehingga berbeda dengan Hindu India.

Para pendeta bersumber India yang berkelana di Nusantara memasyarakatkan sastra Hindu-Buddha kepada suku Bali berabad-abad yang lalu. Masyarakat menerimanya dan mengkombinasikannya dengan mitologi pra-Hindu yang diyakini mereka.[8]
Tungkai Bali yang sudah cak semau sebelum gelombang migrasi ketiga, dikenal seumpama Bali Aga, sebagian besar menganut agama berbeda dari suku Bali pada umumnya. Mereka mempertahankan tali peranti animisme.

Kerelaan pembantu suku Bali tak lepas bersumber campur tangan serta dukungan pemerintah kolonial Belanda, beberapa
naturalist, elit Bali dan masyarakat Belanda. Pemerintah kolonial melarang misionaris beroperasi di Bali pada 1881. Pada 1924, misi Katolik Roma ke Bali ditolak elite Bali dan fungsionaris kolonial mendukung kejadian itu. Selain itu, misionaris Protestan Belanda yang cak hendak masuk ke Bali pada 1931 juga ditentang.[9]

Selepas sejumlah mungkin dilakukan penolakan, plong tanggal 11 November 1931 bos Christian and Missionary Alliance (CMA), R. A. Affray, membaptiskan 12 bani adam Bali kalis di Yeh Poh, sungai kerdil karib dusun Untal-untal di Desa Dalung. Dari sinilah sebagian suku Bali start menganut agama Kristen Protestan dengan gerejanya ialah Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB). Desa Blimbingsari di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana adalah keseleo satu desa di mana penduduknya mayoritas kaki Bali nan beragama Kristen.[10]

Baca :   Apa Yang Dimaksud Dengan Musik Tonal

Pengelolaan cara pencadangan

Kaki Bali memiliki cara tersendiri dalam menegur anak asuh-anak mereka. Dengan penamaan yang khas ini, publik Bali dapat dengan mudah mengetahui kasta dan urutan lahir berbunga seseorang. Lain jelas sejak bilamana adat istiadat kasih nama depan ini start terserah di Bali. Menurut pakar linguistik pecah Universitas Udayana, Prof. Dr. I Embung Jendra, S.U. Nama depan itu pertama siapa ditemukan unjuk pada abad ke-14, ialah saat raja Gelgel, yang momen itu bergelar “Dalem Ketut Kresna Kepakisan”, yang merupakan putra keempat berbunga “Sri Kresna Kepakisan” yang dinobatkan maka itu Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, laksana perpanjangan tangan Majapahit di Bali. “Dalem Ketut Kresna Kepakisan” kemudian dilanjutkan oleh putranya, yakni “Dalem Ketut Ngulesir”. Namun, Prof. Jendra belum dapat memastikan apakah leluri pemberian nama depan itu sebagai pengaruh Majapahit atau bukan. Cuma, hal ini telah menjadi adat istiadat di Bali dan hingga akhir abad ke-20, mahajana Bali pun masih menggunakannya.

Sistem Strata Sosial

Sistem kehidupan awam Bali disebut
Wangsa
berbeda dengan empat warna di Weda, wangsa adalah sistem kontak yang diatur menurut garis keturunan. Meski saat ini tak juga diberlakukan secara kaku sebagaimana pada masa silam, saja internal bilang hal masih dipertahankan. Misalnya privat tradisi upacara aturan dan perkawinan masih dikenal pembedaan berdasarkan galur keturunan leluhur yang mengarah puas wangsa di tahun lalu.

Sistem wangsa ini dari puas abad XIV ketika Kerajaan Bali ditundukkan oleh Majapahit. Puas sediakala wangsa ini dibuat dan dimaksudkan lakukan membedakan antara kabilah penguasa bawah Majapahit dari Jawa yang diberi kuasa memerintah di Bali, dengan umum domestik yang ditaklukkan. Mereka dan keluarganya yang berasal dari Majapahit meski berjumlah minoritas, tetapi memegang mumbung semua urusan umur bernegara. Mereka menciptakan menjadikan seorang hierarki sosial inferior atas nan berpuncak pada Dinasti Kepakisan, nan berasal dari Majapahit.

Mereka mengatasi seluruh Pulau Bali dengan membagi pengaruh di antara mereka, para panglima dan keturunannya. Para raja, bangsawan, pendeta, pejabat Keraton, punggawa militer, abdi Keraton, beserta tanggungan mereka yang berpangkal dari Jawa (Majapahit) menciptakan 3 papan bawah teratas bakal galangan mereka.

  • Kerjakan galangan Imam dan pemuka agama diberikan singgasana seumpama Brahmana.
  • Bakal Raja, kaum bangsawan, petinggi kerajaan, dan bala tentaranya diberikan rona Kesatria.
  • Bagi para abdi keraton, ahli-ahli pembuat senjata, para cendikiawan, dsb nan berasal dari Jawa diberikan corak Waisya.
  • Sedangkan kerjakan masyarakat Bali taklukan nan jumlahnya mayoritas tidak diberikan kedudukan. Mereka semuanya dimasukkan dalam inferior paling kecil dasar di Bali dikenal dengan istilah “Jaba“. Hal inipun diberlakukan kepada keturunan keluarga penguasa Bali bersejarah pra Majapahit dari Dinasti Warmadewa nan melebur n domestik umum Jaba setelah kehabisan dominasi mereka.
Baca :   Daging Buah Yang Kita Makan Pada Buah Mangga Merupakan Jaringan

Sistem wangsa ini pada awalnya juga dibuat bak galur pembagian profesi yang berhak diturunkan kepada generasi penerusnya dan tidak bisa diambil maka itu wangsa lainnya. Selain itu juga berlaku internal seremoni keimanan sesuai kursi wangsa mereka, terkait besar upacara dan jumlah sesajen yang diwajibkan kepada mereka. Kerumahtanggaan praktiknya diberlakukan pula pada perkawinan, di mana wanita yang berasal dari tri wangsa menikahi adam dari jaba akan kehilangan hak wangsanya serta keturunannya. Begitu juga sebaliknya, para gendak diberikan hak menaiki Wangsa dengan seremoni adat pada Wangsa suaminya. Wanita yang telah mendaki Wangsa karena perkawinan ini kemudian disebut Jero. Seluruh zuriat lazim mereka berhak menyandang wangsa yang seperti ayahnya sesuai resan Paternalisme.

Sistem wangsa ini masih kuat dipertahankan dalam sistem penamaan masyarakat Bali. Mereka memberikan awalan logo nan menunjukkan wangsa tanggungan mereka.[11]
[12]

Galeri

Catatan kaki

  1. ^


    a




    b




    c




    d




    “Kewarganegaraan Kaki Nasion, Agama, Bahasa 2010”
    (PDF).
    ilmu kependudukan.bps.go.id. Badan Pokok Statistik. 2010. hlm. 23–41. Diarsipkan pecah versi masif
    (PDF)
    tanggal 12 Juli 2017. Diakses copot
    23 Februari
    2022
    .





  2. ^

    Vickers 2012, hlm. 293.

  3. ^

    Vickers 2012, hlm. 294.

  4. ^

    Vickers 2012, hlm. 296.

  5. ^

    Vickers 2012, hlm. 298.

  6. ^

    Spies 1938, hlm. 6–10.

  7. ^

    de Zoete 1938, hlm. 6–10.

  8. ^

    Steve Lansing,
    Three Worlds of Bali. Praeger, 1983.

  9. ^


    Hussein Abdulsalam,
    Ki kenangan Hindu Bali: Upaya Menuntut Pengakuan semenjak Negara
    , diakses tanggal
    16 Juni
    2019






  10. ^


    “Desa Blimbingsari, Wisata Religi yang Padukan Gereja dengan Sentuhan Budaya Bali”.
    www.jawaban.com
    . Diakses rontok
    23 Februari
    2022
    .





  11. ^


    Sadnyini, Ida Ayu,
    CASTE SYSTEM OF HINDU COMMUNITY IN BALI: HISTORICAL JURIDICAL PERSPECTIVE
    (PDF)
    , diakses tanggal
    2019-06-16






  12. ^



    Sejarah Adanya Kasta di Bali
    , diakses tanggal
    16 Juni
    2019





Daftar pustaka

  • Vickers, Adrian (2012),
    Bali Tempo Doeloe, Jakarta: Komunitas Bambu, ISBN 978-602-9402-07-0



  • de Zoete, Beryl; Spies, Walter (1938),
    Dance and Drama in Bali, London: Faber and Faber Ltd.





Suku Yang Ada Di Bali Dan Nusa Tenggara

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bali

Check Also

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat

Kemukakan Manfaat Sig Dalam Keselamatan Masyarakat. Mas Pur Follow Seorang freelance nan suka membagikan pengetahuan, …